Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Pura Giri Salaka Alas Purwo, Banyuwangi Berawal Gundukan Batu Misterius

I Putu Mardika • Sabtu, 13 Januari 2024 | 22:32 WIB

Areal Utama Mandala Pura Giri Salaka Alas Purwo , Banyuwangi, Jawa Timur
Areal Utama Mandala Pura Giri Salaka Alas Purwo , Banyuwangi, Jawa Timur
JEMBRANA EXPRESS-Pura Giri Salaka Alas Purwo yang terletak di Taman Nasional Alas Purwo, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi Jawa Timur menjadi salah satu pura penting bagi umat Hindu di wilayah Banyuwangi dan Jawa Timur. Pura ini dibangun berawal dari ditemukannya batu bata di kawasan Situs Kawitan, yang lokasinya

Perjalanan menuju Pura Giri Salaka Alas dari pelabuhan Ketapang, bisa ditempuh selama dua jam perjalanan. Jalan ini bisa ditempuh dengan berbagai moda transportasi, mulai dari roda dua hingga roda empat. Tak jarang di perjalanan berpapasan dengan truk yang mengangkut kayu.

Saat memasuki kawasan Taman Nasional Alas Purwo, perjalanan akan disuguhkan dengan hamparan Hutan Kayu Mahoni. Tak pelak, laju kendaraan harus perlahan, sebab kerap ranting pepohonan patah dan jatuh di jalanan.

SesAmpai di lokasi, pemedek bisa sambahyang dulu di areal Situs Kawasan. Letaknya sekitar 50 meter dari Pura Giri Salaka Alas Purwo. Di areal ini, bisa dilihat situs berupa tumpukan bata merah yang dibungkus dengan kain kuning. Di depan situs itu, sudah disediakan tempat menaruh sesajen.

Namun, harus hati-hati, sebab puluhan kera sudah siap mengintai sesajen yang akan dipersembahkan. Sarana pun bisa diletakkan pada sebuah tempat yang dikelilingi dengan kawat untuk mengantisipasi serangan kera nakal.

Usai persembahyangan di Situs Kawitan, pemedek bisa bergeser langsung menuju areal Pura Giri Salaka Alas Purwo. Pura ini secara struktur memiliki tri mandala. Yakni di bagian nista terdapat areal lapang yang masih terdapat pohon mahoni.

Masuk ke dalam bagian  madya mandala yaitu Pelinggih Apit Lawang Pura Giri Salaka Alas Purwo sebagai letak pelinggih ini berada di depan kori agung, dinamakan pelinggih apit lawang karena posisinya berada di depan samping kanan dan kiri pintu masuk. Pelinggih ini sebagai penjaga pintu masuk untuk menuju utama mandala Pura Giri Salaka Alas Purwo.

Kemudian di areal ini juga terdapat Wantilan sebagai bangunan ini difungsikan untuk tempat istirahat umat yang tangkil. Lokasi ini juga kerap digunakan sebagai tempat untuk melaksanakan rapat, dharmatula, dan pentas seni keagamaan Hindu.

Sedangkan untuk bagian Utama mandala dikelilingi penyengker dan terdapat kori agung dengan tiga pintu sebagai pintu masuk untuk menuju mandala utama. Bangunan yang terdapat dalam mandala utama diantaranya yaitu Padmasana Pura Giri Salaka Alas purwo.

Tajuk Pura Giri Salaka Alas Purwo merupakan bangunan yang berfungsi sebagai tempat untuk menaruh sarana upakara atau banten dan benda-benda sakral. Pelinggih Panglurah Pura Giri Salaka Alas Purwo. Selanjutnya Rajahkolocokro merupakan penggambaran Sembilan penjuru mata angin yang berisikan rerajahan bertuliskan aksara Jawa.

Pengempon Pura Giri Salaka Alas Purwo, Romo Mangku Ali Marnoto mengatakan, keberadaan pura ini tidak lepas dari kisah unik. Dimana, Sekitar tahun 1966, di wilayah ini hutannya dirabas, untuk dibuat pertanian. Kemudian di sebelah selatan ditemukan sebuah gundukan.

Ketika terkena hujan, gundukan itu ternyata di bawahnya terdapat banyak bebatuan yang menyerupai batu bata.  Batu bata yang posisinya bertumpuk-tumpuk itu mulai terlihat di permukaan oleh warga.

“Karena orang di sini banyak penggarap yang mondok, akhirnya dibawa sampai sejauh 15 km dari titik ditemukan. Dijadikan sebgai tungku masak. Akhirnya semua yang membawa batu itu sakit. Bahkan ada sampai dibawa ke rumah sakit di Surabaya, setelah sampai di sana malah meninggal,” jelasnya, Senin (26/12).

Atas kejadian aneh tersebut, beberapa diantara mereka kemudian mencari sesepuh atau paranormal. Dari petunjuk paranormal, untuk obatnya bukan dari dokter. Tetapi obatnya mudah sekali.

Yaitu, batu yang dibawa agar dikembalikan, dan dibawakan sesaji ala kadarnya. Disarankan agar matur kepada leluhur dan minta maaf atas kesalahan membawa bata bertuah tersebut. Setelah itu orang yang sempat sakit akhirnya pulih kembali.

Kemasyuran Situs Kawitan dari sekitar tahun 1975 sampai tahun 1991 membuat banyak dikenal oleh Umat Hindu Nusantara. Karena kebetulan pemilik lahannya merupakan Umat Hindu, akhirnya dibuat persembahan saat kajeng kliwon, purnama tilem. Setelah dikenal oleh orang Bali, akhirnya dikembangkan.

Setelah dikembangkan berdirilah Pura Luhur Giri Salaka Alas Purwo pada tahun 1997 di lahan seluas 2 hektar. Dan waktu itu, yang diprakarsai oleh Sekwilda Dewa Brata dan dibantu Dayu Rusmarini untuk mengurus amdal (analisis mengenai dampak lingkungan).

“Dewa Brata berpesan bahwa besok kalau memang sudah amdal turun, supaya ada aupacara besar baik dananya dari Bali, maupun dari manapun, usahakan panitia harus orang Jawa. Karena saya menginginkan perkembangan umat Hindu di Jawa. Toh kalau memang kurang mampu, tanya saja kepada orang Bali. Tetapi panitia harus orang jawa. Karena biar pura yang ada di Jawa kelihatan perkembangannya. Jangan sampai orang Bali titip pura di Jawa,” jelasnya sembari menirukan perkataan Dewa Brata.

Oleh karena itu, sampai sekarang, panitia pujawali di Pura ini tetap orang Jawa dan sesajinya yang digunakan adalah sesajen Jawa dan Bali. Karena statusnya Pura Kahyangan Jagat. Saat odalan bertepatan dengan hari raya Pagerwesi. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Pura Giri Salaka Alas Purwo #kawitan #Taman Nasional Alas Purwo #banyuwangi