Secara administrasi, Pura Tawangalun ini terletak di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi. Posisinya persis di tepi pantai Pulau Merah. Kawasan ini juga termasuk destinasi wisata.
Jaraknya sekitar 70 kilometer dari pusat Kota Banyuwangi ke arah selatan. Waktu tempuhnya untuk menjangkau pura ini hampir 2 jam.
Akses jalan menuju pura Tawangalun tergolong bagus. Bisa dijangkau dengan berbagai moda transportasi. Kualitas jalan juga bagus. Sepanjang perjalanan menuju pura ini, jalan sudah dirabat beton. Perkebunan buah naga juga menjadi pemandangan menarik sepanjang perjalanan ini.
Koran inipun disambut dengan ramah oleh Romo Mangku Suyono. Pria yang berusia 65 tahun ini juga sudah 10 tahun ngayah di Pura Tawangalun. Namun, sejak muda dirinya sudah ikut berpartisipasi membangun pura yang kini diempon oleh umat Hindu di dua Kecamatan, yakni Kecamatan Siliragung dan Pesanggaran ini.
Seperti pura pada umumnya, Tawangalun memiliki konsep tri mandala, yakni nista mandala, madya mandala dan utama mandala. Pada areal utama mandala terdapat sejumlah pelinggih. Seperti Pelinggih Padmasana, Pelinggih Kanjeng Ratu Roro Kidul, Pelinggih Manik Maketel dan Pelinggih Baruna.
“Pelinggih Kanjeng Ratu Roro Kidul yang berwarna serba hijau ini ada karena posisi pura berada di tepi Pantai Selatan. Kami meyakini jika Kanjeng Ratu merupakan penguasa pantai Laut Selatan Jawa,” katanya.
Di Areal ini juga terdapat bangunan yang menyerupai wantilan. Dua pohon beringin besar juga terdapat di bagian Utama Mandala ini. Pohon beringin inilah yang kian membuat suasana semakin sejuk saat melakukan persembahyangan.
Sedangkan pada areal Madya mandala terdapat Bale Kulkul dan Bale Gong. Kemudian pada areal nista mandala terdapat areal parkir kendaraan bagi pemedek. Areal parkir di pura ini juga tergolong luas dengan kondisi lahan yang cukup datar.
Romo Mangku Suyono menceritakan jika keberadaan Pura Tawangalun memiliki sejarah panjang hingga menjadi seperti sekarang ini. Kata dia, sekitar tahun 1982-1983, Umat Hindu di Kecamatan Pesanggaran sebelum memiliki pura mereka kerap melasti di Pantai Pulau Merah.
Pada tahun 1984, adalah seorang dermawan bernama Komang Utamanaya. Ia merupakan seorang camat yang berasal dari Kabupaten Jembrana. Komang utamanaya kemudian mendanapuniakan lahan seluas 12,5 are kepada Parisada untuk membangun pura Tawangalun. “Tanah inilah yang sekarang menjadi areal utama mandala Pura Tawangalun,” kenangnya.
Setelah memiliki lahan, akhirnya pada tahun 1984 secara bertahap pura inipun dibangun meskipun masih sangat sederhana. Pada saat itu, hanya ada pelinggih Padmasan dan tembok penyengker maupun candi bentar.
Sayang, sepuluh tahun berselang, tepatnya Pada 3 Juli 1994 dini hari, Pura Tawangalun luluh lantak disapu Tsunami. Pada waktu itu semua bangunan pura hancur rata dengan tanah. Namun, uniknya justru pelinggih padmasana masih berdiri kokoh meskipun diterjang Tsunami.
“Beritanya terdengar juga sampai ke Bali. Ada padmasana masih berdiri kokoh setelah diterjang Tsunami. Nah, padma yang dulu itu sekarang sudah direstorasi dengan ukuran yang lebih besar dan tinggi,” kenangnya.
Pasca diterjang Tsunami, kabar rusaknya Pura Tawangalun juga menggugah hati para donatur untuk kembali memperbaiki. Proses perbaikan dilakukan pada tahun 1995 dengan dukungan punia dari umat Hindu yang peduli akan perbaikan pura Tawangalun.
Selain diperbaiki, areal Pura Tawangalun juga kian diperluas. Punia itu dating dari seorang Notaris asal Kreneng, Bali Bernama Bagus Alit. Ia mendonasikan lahan seluas 25 are, untuk perluasan pura.“Sekarang karena terus berkembang, areal ini total pura ini mencapai setengah hektar,” imbuhnya.
Menariknya, proses pembangunan pura pasca terkena Tsunami ini juga melibatkan arsitek dari Bali. Termasuk gambar pura dan desainnya berasal dari Bali. Sedangkan bahan baku dan tukangnya bangunannya digarap dari umat Hindu di kawasan itu.
Disinggung terkait arti kata Tawangalun, Romo Mangku menyebut bahwa kata Tawang yang artinya langit, bapa, akasa. Sedangkan kata Alun berarti ombak di Bumi, yang juga melambangkan seorang ibu. Jadi kata tawang alun adalah lambang kehidupan.
Penggunaan kata Tawangalun juga erat hubungannya dengan Pangelan Tawangalun Raja Blambangan. Ia diyakini berdarah Bali-Jawa. Raja Tawangalun memerintah sejak tahun 1652-1691.
“Raja Tawangalun sampai akhinya beliau mangkat (meninggal, Red) tetap setia menganut Hindu. Ketekunan beliau dalam menjalankan Yoga Semadhi inilah diyakini mampu mensejahterakan rakyatnya,” paparnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika