Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Petirtan Beji Gumuk Kancil di Banyuwangi Petilasan Rsi Markandeya, Posisi di Kaki Gunung Raung  

I Putu Mardika • Kamis, 18 Januari 2024 | 22:34 WIB

 

Petirtan Beji Gumuk Kancil di Dusun Wonoasih, Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur
Petirtan Beji Gumuk Kancil di Dusun Wonoasih, Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur
JEMBRANA EXPRESS-Petirtan Beji Gumuk Kancil yang terletak di Dusun Wonoasih, Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur layak menjadi tujuan bagi umat Hindu yang senang melakukan perjalan spiritual.  Tempat melukat ini diyakini sebagai petilasan dari Rsi Markandeya di tanah Jawa.

Penuh perjuangan untuk menjangkau tempat ini yang berada di kawasan perbukitan. Jarak tempuhnya sekita 30 kilometer dengan waktu tempuuh sekitar 1 jam dari Kota Banyuwangi. Posisinya persis di kaki Gunung Raung sebelah Selatan.

Lokasi dapat dijangkau dengan berbagai moda transportasi, mulai dari roda dua dan roda empat. Saat sampai di lokasi, kendaraan bisa diparkir di areal lapangan dekat pura. Sedangkan pemedek bisa berjalan kaki sekitar 100 meter menuju lokasi

Sepanjang perjalanan dari areal parkir menuju Beji Gumuk Kancil pemedek disuguhkan dengan pemandangan hutan pinus. Suasana adem, teduh menambah vibrasi spiritual. Bahkan, pemadangan hutan pinus dan telaga yang bening semakin membuat hati tenang.

Sebelum memulai proses melukat, pemedek terlebih dahulu menuju areal toilet untuk menggnti pakaian yang cocok untuk melukat. Bagi pemedek yang tidak membawa pakaian ganti, mereka bisa meminjam kamen.

Proses melukat bisa dimulai dari Pancoran Solas. Sesuai namanya, pancoran solas jumlahnya sebelas mata air. Satu persatu dari sebelas mata air itu digunakan untuk melukat, dengan berkumur, meraup, meminum airnya.

Air pancuran begitu sejuk dan dingin. Saat diraup benar-benar memberikan suasana segar di kulit. Setelah selesai di pancoran solas, proses melukat bisa dilaksanakan di areal pelukatan dasa Mala yang terdapat sepuluh pancoran.

Pancoran dasa mala inilah diyakini sebagai pancoran untuk mengobati berbagai macam penyakit. Tidak jarang pemedek yang kondisinya sakit secara niskala atau nonmedis nangki; untuk berobat dan acapkali diberikan kesembuhan.

Usai melukat, pemedek bisa bergnti baju lalu dilanjutkan dengan persembahyangan di areal Petirtan Gumuk Kancil. Di areal ini sudah terdapat sejumlah pelingih untuk dilaksanakan pemujaan.

Pemangku Petirtan Gumuk Kancil, Mangku Ageng Harsini menceritakan jika keberadaan petirtaan ini erat kaitannya dengan perjalanan spiritual Rsi Markandeya di kaki Gunung Raung, Jawa Timur.

Petirtaan ini memiliki hubungan yang erat dengan Candi Agung Gumuk Kancil yang posisinya sekitar 300 meter dengan areal Pura Beji Gumuk Kancil. “Candi ini memiliki hubungan yang erat dengan Beji Gumuk Kancil. Di Candi ini sebagai tempatnya bertapa Rsi Markandeya,” paparnya.

Wanita yang sudah ngayah sejak 2013 ini menceritakan, Gumuk Kancil ini memiliki sumber mata air yang berada di areal hutan Pinus milik PT Pehutani. Sebelum direnovasi, kawasan petirtan ini memiliki sumber mata air yang kemudian digali menjadi petirtaan.

Di pura ini, terdapat sejumlah pelinggih. Seperti pelinggih dewi Sri, Dewi Parwati, Saraswati, Dewi Gayatri. Kemudian ada pelinggih Rsi Markandeya, Pelinggih Dewi Gangga, dan Dewa Ganesha.

Ada berbagai cerita unik yang berkembang di areal petirtaan ini. Dulu, ada seorang pengembala kerbau yang piaraannya sakit. Namun secara tidak sengaja diambilkan air disini, dan sembuh. Hal inipun berkembang menjadi cerita secara turun temurun.

“Banyak yang menggunakan beji ini untuk tempat menyembuhkan hewan peliharaan. Sehingga disebut sumber urip. Karena diyakini sebagai tempat pengobatan medis atau non medis,” katanya.

Karena semakin berkembang, akhirnya beji ini direnovasi dan ditata menjadi rapi. Penataan dilakukan pada tahun 2006 silam. Pendaan berasal dari berbagai donatur hingga berkembang seperti sekarang ini.

“Dulu yang membangun masih dibantu oleh Yayasan, tetapi juga ada PHDI kecamatan Glenmore. Tanahnya di bawah perhutani. Kami sudah memohon kepada pemerintah, agar status tanah seluas 0,7 hektare ini bisa dikelola menjadi asset petirtan,” harapnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#gumuk kancil #Desa Bumiharjo #melukat #petirtan #banyuwangi #jawa timur