Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Makna dan Klasifikasi Upakara Yadnya bagi Umat Hindu di Bali: Sebuah Pandangan Terinci

Putu Agus Adegrantika • Jumat, 19 Januari 2024 | 20:38 WIB
YADNYA : Pelaksanaan upacara yadnya umat Hindu di Bali
YADNYA : Pelaksanaan upacara yadnya umat Hindu di Bali

JEMBRANA EXPRESS - Upakara Yadnya memiliki peran penting bagi umat Hindu di Bali, sebagai realisasi karma dan bhakti umat Hindu kepada Hyang Widhi beserta manifestasinya, termasuk Bhatara-Bhatari dan sesama ciptaan Tuhan.

Dalam konteks ritual atau upacara, yadnya tak terpisahkan dari upakara, yang merupakan bahan atau material konkret dari persembahan tersebut.

Nilai-nilai pengorbanan, ketulus-ikhlasan, kesucian hati, dan sikap tanpa pamrih menjadi inti dalam yadnya untuk mempersembahkan sesuatu.

Sebagai contoh, pada saat piodalan di pura, sarana persembahannya berupa banten dengan jenis dan tingkatannya, sesuai dengan lima cara beryadnya yang diuraikan oleh I Gusti Ketut Widana.

Penyuluh Agama Hindu, Ni Luh Cesi, menjelaskan bahwa upakara dapat diklasifikasi dari berbagai segi, seperti bahan atau material, sumber, dan tata letaknya.

Bhagavadgita IX.26 menyatakan bahwa persembahan sehelai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan, seteguk air, dianggap sebagai bhakti persembahan dari orang yang berhati suci.

Bahan atau material persembahan termasuk patram (daun), puspam (bunga), phalam (buah), dan toyam (air).

Sarana ini dianggap sebagai inti dari suatu persembahan atau persembahyangan, dan akan lebih lengkap dengan tambahan api atau angin.

Dalam tata letak upakara atau banten, Cesi membedakannya menjadi tiga tempat, yaitu bagian atas, tengah, dan bawah.

Banten yang ditempatkan di bagian atas, seperti pada Sanggar Surya, termasuk simbolisasi dari hulu Hyang Widhi yang disebut Uttamangga.

Banten di bagian tengah, seperti banten ayaban dan banten pada Panggungan, melambangkan badan Hyang Widhi yang disebut Madhya-angga.

Sedangkan banten di bagian bawah, seperti banten caru, Banten Sorsurya, banten byakala, banten paningkeb, dan segehan, merupakan simbolisasi dari kaki Hyang Widhi yang disebut Nistha – Angga.

Dengan pandangan yang terinci ini, kita dapat lebih memahami makna dan peran Upakara Yadnya dalam kehidupan spiritual masyarakat Hindu di Bali. (*)

Editor : I Putu Suyatra
#yadnya #hindu #bali #upakara