Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Sanghyang Jaran Mesolah: Menyaksikan Keunikan Tari Tradisional Hindu di Desa Bungkulan, Bali

Dian Suryantini • Senin, 22 Januari 2024 | 00:18 WIB
Tari Sanghyang Jaran yang berkembang di Banjar Badung, Desa Bungkulan Kecamatan Sawan, Buleleng Bali berbeda dengan daerah lain
Tari Sanghyang Jaran yang berkembang di Banjar Badung, Desa Bungkulan Kecamatan Sawan, Buleleng Bali berbeda dengan daerah lain

JEMBRANA EXPRESS - Tarian tradisional Sanghyang Jaran di Banjar Badung, Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, memiliki daya tarik unik yang membedakannya dari Sanghyang Jaran di daerah lain, khususnya milik masyrakat Hindu di Bali Selatan.

Berbeda dengan versi di Bali Selatan yang melibatkan penari menunggangi kuda bambu, Sanghyang Jaran di Desa Bungkulan tampil tanpa properti apapun.

Kostum sederhana, seperti badong, ampok-ampok, gongseng di tangan dan kaki, tanpa mengenakan baju, menjadi ciri khas penari yang dipilih berdasarkan keturunan.

Hiasan kapur sirih dengan motif swastika atau tapak dara menghiasi dahi, lengan, dada, dan punggung penari, sementara tangan kanan ditutupi bambu.

Sebelum pementasan dimulai, ritual persembahyangan di Pura Dalem Puri Desa Bungkulan dilakukan untuk memohon ijin dan restu.

Pada sore hari, persiapan pementasan dimulai dengan penglingsir dan penari Sang Hyang Jaran melakukan persembahyangan di pertigaan Pura Dalem Puri.

Didampingi pemangku agama, penari melakukan persembahyangan untuk memanggil roh kuda yang akan merasuki tubuhnya.

Sebuah peasepan dengan bara api ditempatkan di depan penari yang duduk bersila.

Sekeha gending, terdiri dari ibu-ibu, bapak-bapak, dan sekeha truna-truni, memulai nyanyian suci atau kidung pemanggil roh kuda.

Lagu terus bersambung, tanpa henti, dengan tempo yang semakin cepat.

"Lagunya nyambung terus. Tidak boleh berhenti. Ada 15 lagu kalau tidak salah. Kalau 15 lagu itu habis, maka carikan lagu lain seperti pupuh Jerum dan yang lainnya," ungkap Nyoman Witarsa, Klian Banjar Badung.

Ketika penari dirasuki roh kuda, gerakan tubuhnya menjadi semakin intens. Tangan penari menjulur ke depan, meraih bara api tanpa pandang bulu.

Penari akhirnya jatuh tak sadarkan diri, menandakan dimulainya pementasan.

Sekeha gending melantunkan lagu untuk mengiringi Sanghyang Jaran napak pertiwi.

Sanghyang Jaran baru beraksi ketika lagu dimulai. Kekidungan khas Banjar Badung, terdiri dari 9 bagian dengan judul seperti 'Ketut Bangun', 'Ketut Jalan Luas', 'Men Brayut', 'Nyrengseng Kauh', 'Ketut Jalan Singgah', 'Ajar-Ujur', 'Ketut Elingan Tyang', dan 'Sami Pada Girang', memberikan sentuhan khas pada pementasan.

Sanghyang Jaran diperlakukan layaknya teman atau adik dengan panggilan khasnya 'Ketut', menciptakan keterlibatan yang dekat dengan masyarakat.

Kesederhanaan ritual ini tercermin dalam lirik yang mencantumkan nama-nama orang asli Banjar Badung, menjadikan pementasan ini merakyat dan mudah dipahami. (*)

 
Editor : I Putu Suyatra
#hindu #tari #tari sanghyang jaran #buleleng #bali #tradisional