Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Krama Catur Desa Adat Dalem Tamblingan Jalan Kaki 21 Kilometer saat Alilitan Karya

I Putu Mardika • Sabtu, 27 Januari 2024 | 19:27 WIB

Krama Catur Desa Adat Dalem Tamblingan dalam rangkaian Alilitan karya saat berjalan kaki sepanjang 21 kilometer menuju Pura Labuhan Aji, Temukus ngiringang Ida Bhatara Penghulu
Krama Catur Desa Adat Dalem Tamblingan dalam rangkaian Alilitan karya saat berjalan kaki sepanjang 21 kilometer menuju Pura Labuhan Aji, Temukus ngiringang Ida Bhatara Penghulu
JEMBRANA EXPRESS-Prosesi alilitan karya Catur Desa Adat Dalem Tamblingan tegolong panjang. Seusai nunas merta maka tepat Tilem Sasih Kapat, kemudian dibagikan kepada masyarakat di luar Catur Desa. Ritual ini diawali dengan mensucikan pratima Ida Bhatara Penghulu ke segara dengan berjalan kaki dari Gobleg ke Pura Labuhan Aji, Desa Temukus, Kecamatan Banjar sejauh 21 kilometer.

Menariknya, krama yang mengusung pratima Ida Bhatara Penghulu yang disebut Truna Tekor ini seolah tak kenal lelah. Mereka kerap berlari saat mendapat kesempatan untuk mengusung pratima ini. Seolah ada kekuatan niskala yang mendorongnya.

Dijelaskan Jro Putu Ardana selaku tokoh Catur Desa Adat Dalem Tamblingan, ribuan krama tumpah ruah ngiringang Ida Bhtara Penghulu mesucian dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan dari Gobleg ke Pura Labuhan Aji, masyarakat yang wilayahnya dilalui kerap menghaturkan makanan dan minuman untuk warga Catur Desa yang ngiringang.

“Sehingga kami tidak mungkin kelaparan dan kehausan selama perjalanan. Bahkan, ada keyakinan, jika makanan dan minuman yang dihaturkan krama di pinggir jalan itu habis, itu artinya sangat diberkahi, Begitu juga sebaliknya,” bebernya.

Di Pura Labuhan Aji, Ida Bhatara mesucian hingga tiga hari lamanya. Selama itu pula, segala bentuk kebutuhan makan dan minum krama yang ngiringang telah disediakan oleh krama subak yang selama ini memanfaatkan sumber air dari Mendaum untuk mengairi sawahnya.

Seusai mesucian, selanjutnya ida Bhatara Penghulu kembali balik ke Gobleg saat tengah malam. Namun kali ini rute yang ditempuh berbeda dengan saat menuju Pura Labuhan Aji. Pertimbangannya agar sebaran merta  semakin diperlebar, sehingga seluruh tanaman masyarakat tumbuh subur.

Puncaknya adalah upacara Pengayu-ayu pada purnama sasih kalmia. Ritual ini  bermakna ngenteg linggih jagad dan ngenteg linggih kemertaan. “Kesejahteraan yang kami ini dapatkan harus dikukuhkan, lewat upacara ngayu-ayu,” katanya.

Segala bentuk ritual yang dilakukan selama Alilitan Karya sebut Jro Ardana memiliki makna filosofis sebagai pemuliaan air. Bahkan, menurutunya jika krama Catur Desa Adat Dalem Tamblingan sudah melakukan konservasi air dan sumber daya alam baik secara skala dan niskala.

“Leluhur kami sudah sejak dahulu melakukannya. Memuliakan air secara skala dan niskala. Apalagi sumber hidup kita kan dari air. Dan masyarakat luar catur desa juga mengakui spiritualitasnya,” pungkasnya.

Saat ini, jumlah warga yang tercatat sebagai anggota krama Catur Desa Adat Dalem Tamblingan mencapai 6 ribu KK. Dimana, luas lahan kawasan ini mencapai 7 ribu hektar. Dari jumlah tersebut, luas lahan untuk hutan tercatat 1.300 hektar. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Temukus #Ida Bhatara Penghulu #Catur Desa Adat Dalem Tamblingan #jalan kaki #alilitan karya #Pura Labuhan Aji