Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Ada Jejak Tombak Penyerap Aura Gelap Calonarang di Makam Mbah Dowo: Kerap Dikunjungi Para Caleg di Tahun Politik 

I Putu Suyatra • Minggu, 28 Januari 2024 | 14:09 WIB
TOMBAK KERAMAT: Lokasi makam Mbah Dowo di area hutan jati Dusun Kutorejo, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi. (Lugas Rumpakaadi/Radar Banyuwangi)
TOMBAK KERAMAT: Lokasi makam Mbah Dowo di area hutan jati Dusun Kutorejo, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi. (Lugas Rumpakaadi/Radar Banyuwangi)

JEMBRANA EXPRESS - Dalam suasana tahun politik, tradisi berziarah ke tempat-tempat sakral menjadi momen penting bagi calon wakil rakyat.

Salah satu tempat yang sering dikunjungi adalah makam Mbah Dowo, yang terletak di Dusun Kutorejo, Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi.

Lokasi makam ini mudah diakses, terletak di perempatan Desa Kalipait menuju Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), dengan penunjuk arah yang jelas di petilasan.

Di petilasan tersebut, terlihat sebuah makam yang tidak biasa, panjangnya tidak seperti makam manusia pada umumnya.

Meskipun disebut sebagai makam, yang sebenarnya dikubur di sana bukanlah manusia, melainkan sebuah pusaka berwujud tombak.

Pusaka ini konon merupakan salah satu dari tiga tumbal Tanah Jawa, tersebar di tengah (Gunung Padang), barat (Taman Nasional Ujung Kulon), dan termasuk di Makam Mbah Dowo.

Pusaka ini diyakini digunakan oleh Syekh Subakir untuk mempermudah misinya dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa.

Menurut versi cerita lain yang disampaikan oleh juru kunci Ponirin, makam ini berfungsi sebagai tempat sebuah senjata yang ditumbalkan untuk menyerap aura gelap di tanah Jawa.

Menurut Ponirin, "Aura gelap tersebut disebabkan oleh ilmu dari Calonarang, yang hidup semasa pemerintahan Raja Airlangga dari Kahuripan."

Sebagai respons, Raja Airlangga memerintahkan Mpu Bharada untuk menyerap aura tersebut.

Dari proses tersebut, dibuatlah tombak yang dipotong menjadi tiga bagian dan ditanam di tiga lokasi berbeda, termasuk di Makam Mbah Dowo dekat Taman Nasional Alas Purwo.

Ponirin menjelaskan, "Ujung tombak di sini, bagian tengah di Gunung Tidar, dan sisanya di Ujung Kulon."

Tombak ini juga dikenal sebagai Suryo Bujonegoro, yang bermakna matahari yang memberi terang untuk negara.

Makam Mbah Dowo sendiri ditemukan oleh warga pada tahun 1930-an, di tengah rawa yang menonjol dan tidak pernah terkena air.

Meskipun kunjungan ke makam ini relatif sepi, Ponirin mengakui bahwa makam Mbah Dowo tetap menjadi destinasi bagi calon wakil rakyat yang berziarah.

"Mereka berdoa di sini dengan harapan keinginannya maju sebagai wakil rakyat tercapai," ujar Ponirin. (*) 

 

 
Editor : I Putu Suyatra
#makam #Mbah Dowo #calonarang #caleg #banyuwangi