JEMBRANA EXPRESS - Dalam mitologi dan ajaran agama Hindu di Bali, sering kali kita mendengar tentang Kanda Pat, yang merupakan empat saudara tak terlihat yang diyakini terlahir bersamaan dengan manusia.
Dalam perspektif Hindu, kita dapat menjelajahi siapa sebenarnya Kanda Pat dan bagaimana konsep ini terkait dengan ajaran yang lebih luas.
Kanda Pat, secara etimologis, berasal dari kata 'kanda' yang berarti saudara, teman, tutur, dan kewisesaan, serta 'pat' yang berarti empat.
Jadi, Kanda Pat merujuk pada empat saudara halus yang selalu mendampingi roh manusia dari kelahiran hingga kematian, seperti yang dijelaskan oleh Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda.
Dalam teks kuno Atharwa Weda, Kanda Pat diidentifikasi sebagai entitas yang bersemayam di dalam teratai, melambangkan tubuh manusia yang memiliki sembilan pintu.
Konsep ini mendalam dan terkait dengan tiga belenggu yang mengikat roh manusia.
Konsep Kanda Pat sendiri terbagi menjadi Kanda Pat Dewa, Kanda Pat Manusia, dan Kanda Pat Bhuta.
Hal ini mencerminkan hubungan manusia dengan dunia roh, sifat-sifat dewa, sifat manusia, dan sifat-sifat bhuta. Konsep ini secara mendalam terkait dengan ajaran Tri Hita Karana, Tri Kona, Tri Guna, dan Tri Kaya Parisudha.
Dalam kepercayaan masyarakat, Kanda Pat sering dianggap sebagai saudara yang terlahir bersama manusia, melibatkan darah, ari-ari, ketuban, dan lemak.
Namun, Mpu Jaya Prema menjelaskan bahwa konsep ini sebenarnya merupakan bagian dari Kanda Pat Bhuta, di mana ketuban diwakili sebagai Anggapati, darah sebagai Prajapati, lemak sebagai Banaspati, dan ari-ari sebagai Banaspatiraja.
Kanda Pat Manusia, konsep yang lebih sederhana, diimplementasikan dalam ajaran Tri Hita Karana dengan fokus pada hubungan antarmanusia.
Mpu Jaya Prema menjelaskan bahwa setiap elemen seperti ketuban, darah, lemak, dan ari-ari memiliki nama khusus dalam konteks Kanda Pat Manusia.
Implementasi dari konsep Kanda Pat Manusia tercermin dalam praktik otonan, di mana menjaga hubungan harmonis dengan Kanda Pat dianggap sangat penting.
Konsep ini mencerminkan ajaran Tri Hita Karana yang menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan alam dan roh.
Kanda Pat Dewa, sebagaimana dijelaskan dalam ajaran parahyangan, mengajarkan manusia untuk menjaga hubungan dengan Sang Pencipta.
Upacara-upacara Dewa Yadnya menjadi manifestasi dari konsep ini, menunjukkan penghormatan dan hubungan manusia dengan kekuatan ilahi.
Lontar Panus Karma menjelaskan perubahan nama nyama Kanda Pat seiring pertambahan usia manusia.
Mpu Jaya Prema mengungkapkan bahwa konsep ini melibatkan perubahan nyama mulai dari Anta, Preta, Kala, Dengen, hingga ari-ari, lamas, getih, dan yeh nyom.
Lebih jauh, nyama Kanda Pat diyakini sebagai manifestasi Sang Pencipta dalam berbagai wujudnya, seperti Sang Hyang Siwa dalam ari-ari, Sang Sadasiwa dalam lemak, Hyang Parama Siwa dalam darah, dan Hyang Suniasiwa dalam air ketuban.
Untuk menjaga keselarasan hidup, Mpu Jaya Prema menyarankan agar ketuban, darah, lemak, dan ari-ari bayi segera dikubur sesuai tradisi setempat.
Tindakan ini dianggap penting untuk mencegah penyalahgunaan elemen-elemen tersebut oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Dalam kesimpulannya, konsep Kanda Pat membuka wawasan tentang hubungan manusia dengan dimensi tak terlihat dan pentingnya menjaga keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan memahami filosofi di balik Kanda Pat, diharapkan kita dapat lebih menghargai dan merawat hubungan kita dengan saudara tak terlihat ini. (*)