JEMBRANA EXPRESS - Saat mengunjungi tempat suci umat Hindu di Bali, kita akan disambut oleh dua patung Dwarapala yang menghiasi pintu gerbang sebelah kanan dan kiri.
Dwarapala, penjaga pintu gerbang ini, memiliki ekspresi seram dengan mata melotot, taring panjang, dan senyum tipis yang tetap ramah.
Dwarapala terbagi menjadi dua sosok, Nandiswara di sebelah kanan dan Mahakala di sebelah kiri pintu gerbang.
Kedua patung ini diyakini sebagai penjaga kekuatan Dewa Siwa dalam agama Hindu.
Mitologi yang melibatkan Nandiswara menceritakan kisah ketika Dewa Indra bertapa di Gunung Kailasa bersama dewa lainnya. Rahwana datang untuk mengganggu, namun Nandiswara dengan kekuatannya menekan gunung sehingga Rahwana terjepit.
Keberadaan Dwarapala di pintu gerbang dihubungkan dengan pesan Dewa Indra untuk mendirikan Candi Kurung atau Kori Agung sebagai lambang Gunung Kailasa.
Dwarapala bukan hanya terdapat di Bali, namun juga ditemukan di Pulau Jawa, Kamboja, Thailand, dan tempat lain yang dulunya pusat perkembangan ajaran Siwa-Buddha.
Meskipun berusia ratusan tahun, patung-patung Dwarapala tetap kokoh berdiri.
Di Bali, pada hari suci, umat Hindu menghaturkan sesajen di depan patung sebagai ungkapan terima kasih kepada penjaga pintu tersebut.
Meski tak selalu ada patungnya, masyarakat Bali menyiapkan kolong di depan gerbang untuk meletakkan sesajen bagi Nandiswara dan Mahakala.
Menurut Dr. I Made Adi Surya Pradnya, Dwarapala bukan hanya sebagai pajangan, melainkan juga cerminan bagi manusia yang hendak masuk ke tempat suci.
Raut muka Dwarapala mengingatkan untuk introspeksi diri sebelum memasuki tempat suci, merajan, atau rumah orang.
Pria yang akrab disapa Jro Dalang Nabe Roby menekankan bahwa penghormatan terhadap Dwarapala harus ditujukan pada makna ketuhanan di balik sosok patung tersebut.
Dwarapala adalah simbol kekuatan Tuhan sebagai penjaga dunia.
Di depan pintu gerbang rumah umat Hindu di Bali, selain patung Dwarapala, juga sering dipasang patung tokoh pewayangan atau binatang tertentu.
Misalnya, tokoh Sangut-Delem dan Tualen-Merdah, serta binatang seperti singa atau anjing, yang memiliki makna sebagai penjaga dan simbol rwabhineda atau dua hal berlainan yang tak dapat dipisahkan.
Dengan demikian, keberadaan patung-patung ini di pintu gerbang tidak hanya sebagai hiasan, tetapi juga membawa makna mendalam dalam kehidupan sehari-hari umat Hindu di Bali. (*)
Editor : I Putu Suyatra