Upacara adat tersebut diantaranya adalah Saba Malunin dan Saba Ngelemekin yang dilaksanakan di beberapa pura yang ada di Desa Pedawa yaitu Pura Desa, Pura Bingin, Pura Pecetian, Pura Telaga dan Pura Munduk.
Secara umum Tari rejang di Desa Pedawa dibagi menjadi 24 tarian, namun dalam pelaksanaan saba Desa Pedawa terdapat 7 tari rejang diantaranya Tari Rejang Tanding Klayon, Tari Rejang Lilit Penjalin, Tari Rejang Lilit Dawa, Tari Rejang Bawak, Tari Rejang Tanding Wasi, Tari Rejang Sirig Bantas, dan Tari Rejang Mbad-mbadan Penjalin.
Prajuru Adat Pedawa, Wayan Sukrata, 65 mengatakan tarian ini yang biasanya wajib ditarikan pada upacara Saba Malunin setiap 3 bulan sekali. Tari rejang ini hanya boleh ditarikan oleh wanita yang sudah memasuki masa remaja atau yang biasa disebut oleh masyarakat Desa Pedawa dengan istilah Daa
Tari rejang Desa Pedawa ini merupakan salah satu tradisi turun-temurun diwariskan oleh leluhur yang masih dilaksanakan sampai saat ini, keberlangsungan tari rejang ini menandakan adanya transmisi dari generasi ke generasi.
Mantan Kelian Adat Pedawa ini menjelaskan sejarah tari rejang Desa Pedawa tidak terlepas dari bagaimana sejarah Desa Pedawa itu dimulai. Sebelum dikenal dengan nama Pedawa, desa ini dahulunya bernama Gunung Tambleg. Kata Tambleg sendiri memiliki arti lugu dan polos. Artinya, nama tersebut berhubungan dengan masyarakatnya yang memiliki pemikiran warga desa yang masih sederhana.
Sebelum dikenal sebagai Desa Pedawa, keyakinan masyarakat mengenai Tuhan di desa ini masih sangat sederhana yaitu masih menganut keyakinan animisme dan dinamisme. Setelah masuknya agama Hindu di Bali khususnya di Desa Pedawa, kesenian seperti tari dan gamelan yang diperuntukan sebagai sarana pemujaan mulai berkembang walaupun masih sangat sederhana.
“Masyarakat meyakini tari rejang Desa Pedawa mulai muncul pada waktu itu, hal ini terlihat dari gerak tari rejang Desa Pedawa yang sangat sederhana. Tari rejang Desa Pedawa merupakan tari sakral yang hanya dipentaskan pada saat saba (upacara adat khusus) di Desa Pedawa yang terdiri dari 24 jenis tari rejang,” kata pensiunan Guru Agama Hindu ini.
Tari rejang ini tidak boleh dipentaskan oleh sembarang orang, karena terdapat tradisi khusus yang memperbolehkan seorang perempuan untuk menarikan tarian ini yaitu perempuan tersebut harus menjadi daa terlebih dahulu.
Daa sebut Sukrata merupakan istilah yang di kenal oleh warga Desa Pedawa sebagai seorang perempuan (belum menikah). Para daa ditugaskan untuk ngayah atau diberikan kepercayaan dan tanggung jawab untuk membantu aparat desa dalam melaksanakan saba.
Perempuan yang ditunjuk menjadi daa akan diberikan dua buah daun sirih yang berisikan kapur, buah pinang, gambir dan dibungkus dengan daun pisang. Dalam satu keluarga yang ditugaskan menjadi daa hanyalah satu orang yaitu anak perempuan tertua dalam keluarga itu.
Ketika anak perempuan itu menikah status daa ini akan diwariskan kepada adik perempuannya yang belum menikah begitu pula seterusnya. Salah satu kewajiban daa pada saat pelaksanaan saba adalah menari tari rejang, jika seorang daa tersebut tidak bisa menari pada saat saba (datang bulan) maka akan dikenakan sanksi.
Daa itu sendiri diwariskan berdasarkan garis keturunan yang hanya didapatkan bagi anak perempuan dalam sebuah keluarga. “Sebagai contoh misalkan dalam sebuah keluarga terdapat 4 orang anak, anak pertama dan kedua adalah laki-laki, sedangkan anak ketiga dan keempat adalah perempuan, maka yang diberikan kepercayaan dan tanggung jawab menjadi daa adalah dimulai dari anak ketiga perempuan,” sebutnya.
Apabila anak ketiga ini menikah maka status sebagai daa tersebut akan diwariskan kepada adiknya yaitu anak keempat perempuan dalam keluarga tersebut. Apabila tidak memiliki anak perempuan atau semua anak perempuannya sudah menikah ke luar desa maka orang tua dalam keluarga tersebut dianggap leteh/kotor.
“Orang tua ini tidak boleh datang ke pelaksanaan upacara saba di pura pada saat hari pertama saba, tetapi boleh datang dan melakukan persembahyangan di hari-hari berikutnya,” kata Sukrata. (dik)
Editor : I Putu Mardika