Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Spirit Pelestarian alam Melalui Tumpek Wariga, Hormati Dewa Sangkara, Lestarikan Tumbuhan lewat Nyawen  

I Putu Mardika • Sabtu, 3 Februari 2024 | 01:59 WIB

 

Proses melakukan upacara tumpek wariga sebagai simbol penghormatan terhadap tumbuhan
Proses melakukan upacara tumpek wariga sebagai simbol penghormatan terhadap tumbuhan
JEMBRANA EXPRESS-Tumpek Wariga kembali akan dirayakan oleh Umat Hindu di Bali pada Sabtu (3/2). Ritual Tumpek Wariga yang dilaksanakan tepat saat Saniscara Wuku Wariga memiliki beragam nama dan penggunaan sarana bubuh yang sarat akan makna.

Hari suci tumpek bubuh dirayakan setiap enam bulan sekali (berdasarkan pehitungan kalender Bali) yaitu pada Saniscara Kliwon Wariga. Tumpek bubuh juga dikenal dengan nama Tumpek Uduh, Tumpek Pengatag, Tumpek Pengarah, Tumpek Wariga dan Tumpek Bubuh.

Sarati banten, Jro Ketut Utara mengatakan, nama Tumpek Wariga disebut Tumpek Bubuh karena media yang digunakan adalah bubuh (bubur). Sedangkan kata uduh dimaknai memanggil, pengarah diterjemahkan memberikan atau menyebarluaskan informasi, dan pengatag diterjemahkan mengundang.

Tumpek Wariga juga menjadi penanda jika hari Raya Galungan tinggal 25 hari lagi. Pada saat ini, umat melakukan ritual pemujaan terhadap penguasa tumbuh-tumbuhan melalui media tumbuh-tumbuhan itu sendiri. Di dalam Lontar Sundarigama, Tuhan dalam wujud penguasa tumbuh-tumbuhan bergelar Sang Hyang Sangkara.

“Dalam pengideran Dewata Nawasanga, Sang Hyang Sangkara menempati arah Barat Laut dengan warna hijau yang identik dengan warna tumbuh-tumbuhan,” kata pria asal Kubutambahan ini.

Ia menambahkan, ada berbagai sarana banten (sesajen) yang dipersiapkan dan dipersembahkan kepada Sang Hyang Sangkara melalui media tumbuh-tumbuhan sebagai singgasana Beliau saat Tumpek Wariga.

Momentum ini juga sebagai media permohonan agar para tumbuhan dapat tumbuh subur, berdaun lebat, berbunga, berumbi, dan berbuah sehingga menjadi berkah bagi alam dan sumber makanan bagi makhluk hidup lainnya.

“Kita berdoa kepada Dewa Sangkara agar tumbuh-tumbuhan diberikan keselamatan dan kesuburan. Upacara ini memiliki makna tersendiri karena upacaranya untuk mendoakan tumbuhan yang pada saat itu sedang berbunga,” paparnya.

Proses pelaksanaan Tumpek Wariga bisa saja dan pasti berbeda di setiap desa yang ada di Bali selain karena Desa mawecara tentunya juga dipengaruhi oleh desa, kala, dan patra. Namun menurut catatan yang terdapat dalam Lontar Sundarigama bahwa banten atau upakara yang diperlukan untuk perayaan tumpek wariga

Diantaranya Peras, sayut, tulung, banten ajuman atau soda dan bubur sumsum yang terbuat dari tepung beras ditaburi kelapa parut dan gula merah cair. Pada pohon juga diisi caniga dan di bawahnya segehan cacahan.

Banten peras adalah lambang perjuangan dan doa untuk mencapai hidup kita. Demikian juga dengan tumbuhan yang memiliki roh dan bisa tumbuh tentu memiliki tujuan dalam hidupnya walaupun tidak bisa bersuara namun dia terus tumbuh sesuai dengan kodratnya.

Banten penyeneng adalah suatu jenis banten yang berbentuk sampian dengan berisi tiga kojong yang berisi tepung tawar yang berupa campuran tepung beras, kunyit, dan daun dapdap. Penyeneng berfungsi sebagai sarana pada saat natab dalam upacara otonan. Dalam hal ini adalah otonan tumbuh-tumbuhan sehingga yang natab juga adalah tumbuh-tumbuhan.

Selanjutnya adalah sesayut yang berasal dari kata Ayu. Dalam bahasa Sanskerta kata Ayu bermakna hidup yang baik. Banten ini mengandung makna supaya tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar kita agar tumbuh dengan baik dan juga dapat berguna bagi yang memerlukan.

Pelaksanaan hari Tumpek Wariga biasa dimulai dengan melakukan persembahyangan di merajan rumah masing-masing dan nunas tirta yang akan dipercikkan kepada tumbuh-tumbuhan yang akan diatagin. Proses selanjutnya adalah natabin pepohonan yang dipilih sebagai wakil dari pohon yang lainnya.

Setelah ini di pohonnya digantungkan gantung-gantung yang ada kojongnya yang berisi bubur sumsum yang merupakan lambang kemakmuran. Setelah itu ditatabin dengan banten penyeneng lalu diperciki tirta yang berasal dari merajan sanggah di rumah.

Doa yang dilakukan contohnya mengucapkan mantram ketika menghaturkan banten dan memohon penganugrahan yang dilakukan. Sebagai contohnya memukul batang pohon sebanyak 3 kali.

“Ini memiliki dua makna yaitu untuk memberikan ruang atau area untuk memasukkan bubur (kesuburan) ke dalam tubuh tumbuhan melalui batang dan untuk membangunkan tumbuhan,” paparnya.

Perayaan tumpek wariga tidak hanya terkait pemberian sesajen kepada alam terutama tumbuhan, melainkan berupa tindakan nyata pelestarian alam. Orang Bali mempertahankan kondisi alam sekitar salah satunya dengan tradisi nyawen.

Terdapat aturan saat satu pohon ditebang, maka diwajibkan untuk menancabkan ranting pada pangkal pohon tersebut sebagai sawen. Kegiatan tersebut secara implisit merupakan sebuah seruan untuk menjaga sumber daya tumbuhan dengan melaksanakan reboisasi atau penanaman kembali.

“Inilah simbol pelestarian terhadap tumbuhan. Karena jelas konsep ekologinya. Jika kita menjaga alam, maka alam akan menjaga kita. Tumbuhan menyuplai oksigen, menjaga air, dan melindungi kita dari bencana alam longsor. Tentu spirit Tri Hita Karana begitu nyata diimplementasikan dalam Tumpek Wariga ini,” katanya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Tumpek Wariga #tumpek pengarah #tumpek bubuh #tumpek pengatag