Prajuru Adat Desa Sidatapa, Putu Nadia, 42 menceritakan tradisi ngaturang buah ini merupakan ritual yang telah dilaksanakan dari generasi ke generasi, sebagai wujud syukur atas keberlimpahan hasil panen. Sehingga waktunya pun tidak bisa ditentukan kalender masehi, pun dalam kalender saka.
“Jika sudah ada tanda-tanda panen, baru ritual Ngaturang Buah akan dilaksanakan. Sehingga kami tidak pasti kapan itu dilaksanakan tradisinya. Tetapi kalau sudah panen raya wajib digelar,” jelasnya.
Dikatakan Putu Nadia, tidak diketahui pasti bagaimana awal mulanya tradisi ini dilaksanakan. Namun Warga Sidatapa sebagai krama Bali Aga tetap konsisten melaksanakan tradisi ini sejak dahulu hingga sekarang.
Tradisi ngaturang buah ini diawali dengan persembahyangan bersama di Pura Desa. Setelah sebelumnya masing-masing warga yang sudah masuk krama adat membawa buah-buahan hasil panen di kebun mereka. Seperti rambutan, manggis, duku, kepundung, wani dan durian ke Bale Pebatan yang ada di Pura Desa.
“Secara geografis, Desa Sidatapa letaknya di perbukitan yang subur, sehingga banyak bisa ditanami beragam jenis buah. Sejak dahulu Sidatapa merupakan daerah penghasil berbagai macam buah,” jelasnya.
Jika merujuk pada Dresta, tradisi ini digelar selama tiga hari. Pada hari pertama, masyarakat wajib membawa tiga butir buah durian. Apabila ada yang memiliki buah-buahan lain, dipersilahkan membawanya. Biasanya masyarakat yang memiliki buah manggis, akan membawa sedikitnya tiga kilogram manggis. Sementara yang memiliki buah rambutan, membawa sedikitnya tiga ikat.
Pada hari kedua, masyarakat kembali wajib membawa dua butir buah durian. Sedangkan pada hari ketiga, hanya satu buah durian yang wajib dibawa. Saat dilaksanakan, sejak pagi ratusan warga adat berduyun-duyun mendatangi Pura Bale Agung.
Krama istri membawa durian dengan menempatkannya pada keranjang kecil atau besek.Sedangkan krama lanang (pria) membawanya dengan menggunakan kisa yang terbuat dari anyaman daun kelapa atau slepan. Setiap kepala keluarga sebagai krama ngarep wajib membawa buah-buahan untuk dihaturkan.
Tak pelak jika ngaturang buah ini digelar, Pura Bale Agung akan penuh dengan buah durian dan beragam jenis buah lainnya. Sehingga persis seperti Festival Buah. “Makanya kawasan Pura Bale Agung akan penuh dengan buah-buahan. Ada durian, wani, rambutan, durian, manggis” bebernya. (dik)
Editor : I Putu Mardika