Putu Nadia mengatakan Dewa Ayu Mas Mangraronce merupakan penguasa kesuburan tanaman. Baik pala bungkah (umbi-umbian) dan pala gantung (buah-buahan) atau tanaman perkebunan dan tegalan yang ada di Desa Sidatapa.
“Bila dilihat dari keyakinan Hindu pada umumnya, Dewa Ayu Mas Mangraronce merupakan nama lain dari Dewi Laksmi atau Dewi Sri Saktinya dari Dewa Wisnu. Beliau bagi masyarakat Sidatapa adalah simbol sebagai Dewi Kesuburan,” paparnya.
Hal ini bertambah jelas jika dilihat hari piodalan di pura ini pada hari Sanicara Kliwon Wariga yang dikenal sebagai Tumpek Pengatag atau Tumpek Uduh. Biasanya, umat Hindu saat Tumpek Wariga mengenal hari suci tersebut merupakan upacara untuk mohon keselamatan bagi seluruh tanem tuwuh atau bagi pala bungkah dan pala gantung.
Banten yang dipersembahkan pada setiap piodalannya sebut Putu Nadia adalah berupa banten Bali taksu dan banten berupa hasil panen buah-buahan jika sedang musim panen buah-buahan di Desa Adat Sidetapa. Selain banten bali taksu, juga ada banten lain yang dibawa atau dipersembahkan oleh masing-masing keluarga.
Penempatannya banten bali taksu di depan palinggih masing-masing. Sedangkan banten nagari di tempatkan di bagian belakang banten bali taksu, di atas asagan bambu yang telah disediakan. Pelaksanaan Dewa Yadnya dengan sarana banten bali taksu dipimpin oleh Jro Balian, dan hanya boleh diikuti oleh prajuru desa saja.
Setelah upacara yang dipimpin oleh prajuru desa selesai, barulah krama desa lainnya boleh melaksanakan upacara persembahan dengan menggunakan sarana banten nagari yang pelaksanaannya seperti persembahyangan yang umum berlaku di nagari. “Biasanya diawali dengan puja Tri Sandya, kramaning sembah, nunas wasupada Ida Bhatara, juga disertai dengan pemberian dharma wacana,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika