JEMBRANA EXPRESS - Berbeda dengan Pura Prajapati yang umumnya terletak di daerah hulu setra, Pura Prajapati di Desa Pakraman Sai, Kecamatan Pupuan, Tabanan, Bali, memiliki keunikan tersendiri dengan lokasinya yang berada di pemedal Pura Dalem Desa Pakraman Sai.
Meskipun sejarah pasti Pura Prajapati ini belum terungkap secara jelas, tidak ada catatan yang menyatakan bagaimana awal mula pembangunannya hingga berada pada posisi saat ini.
Dikutip dari Bali Express (Jawa Pos Group) menurut Bendesa Adat Desa Pakraman Sai, I Nengah Ginawa, Pura Prajapati terletak di sebelah kiri pintu masuk Pura Dalem Desa Pakraman Sai sejak zaman dahulu. Namun, tidak ada yang dapat memastikan asal-usulnya secara pasti.
Pada sekitar tahun 2014, pihak adat sempat merencanakan pemindahan Pura Prajapati ke dekat setra, sebuah titik lokasi yang umumnya ditemukan di desa-desa lain di Bali.
Namun, rencana tersebut terpaksa dibatalkan karena terjadi beberapa peristiwa yang tidak terduga.
Sejumlah musibah terjadi berurutan yang menimpa beberapa warga Desa Pakraman Sai selama proses perencanaan tersebut.
Hal ini termasuk kematian beberapa warga akibat berbagai penyebab.
Kejadian ini membuat pihak adat meminta petunjuk dari tokoh agama, dan hasilnya menunjukkan bahwa Ida Bhatara tidak menghendaki pemindahan Pura Prajapati.
Berdasarkan petunjuk tersebut, diputuskan untuk membiarkan Pura Prajapati tetap berada di lokasi semula.
Saat ini, Pura Prajapati melayani sekitar 400 KK (Kepala Keluarga) di Banjar Adat Sai, Yeh Tua, Yeh Bus Bus, dan Gambuk, yang semuanya tergabung dalam Desa Pakraman Sai.
Ritual Pujawali di Pura Prajapati dan Pura Dalem Desa Pakraman Sai diadakan setiap Anggara Kasih Tambir.
Seperti Pura Prajapati pada umumnya, fungsi utamanya adalah menstanakan roh yang masih berstatus Preta menurut Yama Purana Tattwa.
Selain itu, Pura Prajapati juga digunakan oleh warga Desa Pakraman Sai untuk matur piuning, yakni memberikan penghormatan terakhir ketika ada warga yang meninggal dan akan dikubur di setra setempat. (*)