Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Tradisi Bali: Tradisi Mekering-Keringan Endut, Perayaan Pujawali yang Memukau di Areal Pura Gede Pemayun, Banyuning

I Putu Mardika • Selasa, 6 Februari 2024 | 23:24 WIB
Tradisi Mekering-Keringan Endut di Buleleng, adalah salah satu tradisi unik umat Hindu di Bali.
Tradisi Mekering-Keringan Endut di Buleleng, adalah salah satu tradisi unik umat Hindu di Bali.

JEMBRANA EXPRESS - Tradisi Mekering-Keringan Endut di Jaba Pura Gede Pemayun, yang terletak di Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng, Bali, adalah salah satu tradisi unik umat Hindu di Bali.

Tradisi ini dilakukan secara spontan oleh ratusan warga ini memiliki makna sakral.

Setiap tahunnya, permainan ini menjadi bagian dari Piodalan Agung Pura Gede Pemayun, Desa Pakraman Banyuning, yang dirayakan pada setiap Buda Kliwon Ugu.

Tak hanya itu, permainan ini juga menjadi ungkapan syukur atas suksesnya pelaksanaan pujawali di Pura tersebut.

Kemeriahan permainan Mekering-Keringan Endut tidak hanya dirasakan oleh anak-anak, tetapi juga remaja dan dewasa yang larut dalam suasana keceriaan.

Permainan ini menjadi salah satu hiburan masyarakat yang dinanti-nantikan, dimainkan hanya sekali dalam setahun.

Kawasan sekitar Pura Gede Pemayun, yang terletak di Jalan Gempol, Banyuning, pun menjadi ramai oleh kehadiran para remaja yang berlumur lumpur.

Mereka sengaja melumuri diri sambil menanti kedatangan teman-teman mereka untuk bergabung dalam permainan. Bahkan, mereka dengan antusias menyerbu pengendara motor yang melintas, mengajak mereka bergabung dalam kegembiraan.

Dikutip dari Bali Express, Kadek Arta Bawa (35), salah satu pemuda Banyuning, mengungkapkan bahwa seluruh lapisan masyarakat ikut merasakan nostalgia dalam permainan Mekering-Keringan Endut.

Permainan ini berlangsung dari pukul 12.00 hingga 16.00 WITA, diikuti dengan mandi bersama di Tukad Tangis.

Menariknya, tradisi Mekering-Keringan Endut ini dulunya tidak melibatkan lumpur. Namun, seiring perkembangan zaman, permainan ini diadaptasi dengan menggunakan lumpur, menjadikannya lebih menarik dan melibatkan seluruh masyarakat Banyuning.

Ketut Setiawan (57), Klian Banjar Adat Banyuning Tengah, menjelaskan bahwa tradisi ini awalnya hanya diikuti oleh krama pengempon Pura.

Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi ini melibatkan seluruh masyarakat Banyuning, menunjukkan rasa kebersamaan dan saling memiliki.

Perayaan Pujawali di Pura Gede Pemayun menjadi momen yang dinanti-nantikan oleh warga Banyuning setiap tahunnya.

Rasa kebersamaan dan kegembiraan yang tercipta melalui tradisi Mekering-Keringan Endut menjadikan momen tersebut semakin berkesan.

Dengan demikian, tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari sejarah, tetapi juga sebagai warisan budaya yang terus dijaga dan dirayakan oleh masyarakat Banyuning setiap tahunnya.

Tradisi yang menggabungkan kesakralan dengan kegembiraan ini memperkuat ikatan antara warga dan Pura Gede Pemayun, menciptakan kesan yang tak terlupakan bagi semua yang terlibat. (*)

 

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #tradisi #buleleng #bali