JEMBRANA EXPRESS - Umat Hindu yang merupakan Trah Pande memiliki keberadaan yang signifikan di Bali.
Mereka terkenal dalam seni pembuatan senjata dan perkakas besi. Selain itu, tradisi mereka di Bali, juga mencakup beberapa kebijakan pantangan yang menarik.
Tempat kerja Pande, yang dikenal sebagai perapen, merupakan pusat aktivitas pembuatan senjata dan perkakas besi yang penting bagi petani dan tukang.
Di sini, senjata seperti keris, gada, dan tombak diproduksi dengan teliti. Perapen juga dianggap sebagai tempat di mana tiga unsur alam bertemu, menciptakan sebuah harmoni yang khas.
Sire Mpu Pande Aji, dalam wawancaranya dengan Bali Express (Jawa Pos Group), mengungkapkan bahwa sejarah Pande bermula dari India, namun telah mengalami penyesuaian dengan adat, tradisi, dan budaya Bali seiring berjalannya waktu.
“Di India terdapat seorang Sire Mpu yang disebut Sang Ratu Putra Pande, yang zaman itu sudah mengerti membedakan mana unsur tanah dan unsur besi,” papar mantan guru agama Hindu tersebut.
Hal ini memungkinkan masyarakat untuk menetap secara permanen dan meninggalkan gaya hidup nomaden.
Kehadiran trah Pande juga memberikan kontribusi besar terhadap kemajuan pertanian dan pembangunan rumah di Bali.
Mereka memproduksi alat pertanian dan material bangunan yang penting bagi masyarakat pada zaman tersebut.
Namun, di Bali, senjata bukan hanya digunakan untuk kebutuhan pertanian. Mereka juga digunakan dalam konteks kerajaan, baik sebagai senjata untuk perang maupun sebagai barang perdagangan.
Menariknya, menurut cerita yang diteruskan oleh Sire Mpu Pande Aji, trah Pande menghormati ikan jeleg (ikan gabus) karena bantuan yang diberikan saat mereka menyeberang dari Pulau Jawa ke Bali.
Selain itu, pantangan dan tradisi juga memegang peranan penting dalam budaya Pande. Tempat kerja mereka, yang disebut perapen, dianggap sebagai tempat suci yang hanya boleh dimasuki oleh orang-orang tertentu dan mematuhi aturan yang ditetapkan.
Dalam proses pembuatan senjata, penggunaan api juga memiliki makna spiritual. Ada dua jenis api yang digunakan: satu untuk mencari nafkah (seperti di perapen) dan satu lagi untuk kehidupan sehari-hari, seperti memasak di dapur.
Meskipun siapa pun boleh membuat senjata, proses nyepuh (membentuk) senjata tersebut diyakini harus dilakukan oleh trah Pande.
Melanggar aturan ini bisa berakibat buruk, menurut kepercayaan mereka.
Selain itu, jika trah Pande terkena api saat bekerja, mereka diyakini akan cepat sembuh, menunjukkan penghormatan terhadap Dharmaning Kepandean, sebuah prinsip spiritual yang dipegang teguh oleh mereka.
Tidak hanya dalam pembuatan senjata, kehadiran trah Pande juga terasa dalam ritual dan upacara adat Bali.
Putu Sugiantara, seorang warga Abiansemal, Badung, mengungkapkan bahwa dia selalu berkonsultasi dengan trah Pande dalam setiap tahap upacara keagamaan, karena hal ini merupakan bagian dari warisan turun-temurun yang dijunjung tinggi.
Dengan demikian, trah Pande tidak hanya merupakan bagian dari sejarah Bali, tetapi juga memainkan peran penting dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan keagamaan masyarakat Bali. (*)