Jro Mangku Santa menjelaskan, umat Hindu yang nangkil ke pura ini, usai persembahyangan di areal mandala utama, kerap diberikan seikat (sebelas) dupa. Mereka kemudian melakukan permohonan khusus di Lingga Yoni tersebut.
“Sejak beberapa tahun lalu Pura Pajinengan Gunung Tap Sai mulai ramai didatangi umat Hindu dari berbagai daerah di Bali. Apalagi pada saat purnama dan tilem, pengunjung hingga tengah malam di pura setempat,” katanya.
Ia menambahkan, bahwa pura tersebut sudah ada sejak dirinya masih kecil dan bangunannya tidak sebagus sekarang. Begitu juga dengan palinggihnya juga dahulu tidak beragam. Dia menegaskan bahwa adanya banyak palinggih dan pura semakin terawat sejak dilakukan rehab pura tahun 2000‐ an
“Upacara besarnya setelah pembangunan itu digelar yaitu sekitar tahun 2014. Sejak saat itulah mulai ramai,” paparnya.
Lanjutnya, ada tiga dewi berstana di pura ini, yakni Dewi Saraswati, Dewi Sri, dan Dewi Laksmi (Bhatara Rambut Sedana), dan sering pula disebut Tri Upa Sedana. Umat Hindu percaya bahwa dengan memohon ke pura ini akan mendapat anugerah.
Banyak juga pengunjung datang untuk memohon agar lancar dalam bisnis dan memohon keturunan karena memang ada palinggih Lingga Yoni alami. “Makanya kalau rahinan Buda Cemeng Klawu, yang nangkil pasti ramai. Karena memohon agar usahanya diberikan kelancaran,” ungkapnya.
Bagi mereka yang akan sembahyang diharapkan mematuhi aturan yang ada, yakni dilarang langsung ke mandala utama. Sebab, ada beberapa tahapan sembahyang yang harus diikuti oleh para pemedek.
Dimulai dari yang paling bawah di palinggih Ratu Penyarikan Pengadang Adang, dilanjutkan sembahyang di palinggih Ratu Gede Mekele Lingsir, sebuah palinpgih batu besar bertuliskan huruf Bali. Setelah itu naik lagi ke palinggih Widyadara Widyadari. Kemudian dilanjutkan pangayengan Pura Dalem Ped di Nusa Penida.
Selanjutnya naik lagi menuju Beji. Disana pengunjung malukat dengan tirta yang disebut tirta bang, yang merupakan salah satu jenis tirta di pura itu. Ada tiga tirta dari sumber air berbeda di pura ini, yakni tirta bang, tirta selem, dan tirta putih.
Khusus untuk tirta putih belum dialirkan ke bawah karena masih harus mendaki. Sedangkan tirta selem sudah bisa diminta di areal mandala utama. Setelah malukat di beji ini, baru diperkenankan masuk areal mandala madia.
“Disana terdapat sebuah palinggih Ganesha atau Sanghyang Gana. Setelah itu dilanjutkan ke mandala utama yang merupakan kompleks palinggih Ida Bhatari Tri Upa Sedana. Palinggih Lingga Yoni juga ada disini. Setelah itu, dilanjutkan sembahyang di palinggih Ratu Hyang Bungkut,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika