Tidak sulit untuk mengakses pura ini. Pemedek bisa masuk melalui jalur yang ada di dekat Pasar Pancasari atau di depan Kantor Perbekel Pancasari. Jalan yang dirabat beton ini dapat dilalui kendaraan roda empat. Suasana pun sangat asri di sepanjang perjalanan dan dikelilingi pepohonan yang sangat rimbun.
Kebun kopi, dan pepohonan terlihat di sepanjang perjalanan. Bahkan pemandangan Danau Buyan juga terlihat jelas di sepanjang perjalanan menuju pura yang posisinya berada di kaki perbukitan ini.
Kawasan Pura Luhur Puncak Sari jaraknya sekitar satu kilometer dari jalan raya Singaraja-Bedugul. Areal parkir juga tersedia, sehingga pemedek bisa leluasa memarkir kendaraannya saat hendak bersembahyang.
Saat sampai di lokasi pura, vibrasi spiritual begitu terasa. Suasana hening dan udara yang sejuk menambah ketenangan. Pemedek pun dibuat terpukau dengan areal bebaturan suci yang dikelilingi dengan tanaman Endong. Areal pura juga dipagari bambu runcing yang dipasang mengelilingi pura.
Satu pelinggih berkumpul puluhan bebatuan beragam bentuk dan ukuran yang tersusun secara rapi melinkar. Di atasnya terdapat daksina linggih dan canang bekas ritual sebagai pertanda bahwa ada yang berstana di bebaturan tersebut.
Jro Mangku Nyoman Pening mengatakan, pura Luhur Puncak Sari diempon oleh krama Banjar Yeh Mas Dinas Dasong Desa Pancasari. Namun, pemedek yang nangkil juga berasal dari berbagai pelosok di Bali.
Dikatakan Nyoman Pening, pura ini tergolong unik. Karena berbentuk bebaturan yang jumlahnya mencapai 21 pelinggih. Rinciannya sebanyak 18 pelinggih yang disebut Asta Dasa Giri atau delapan belas gunung (puncak) yang ada di Bali. Sisanya tiga pelinggih yaitu Dewa Ayu Duwur Sari, Ida Bhatara Lingsir, Patih Ida Patih Ki Demang Cepong.
Kendati demikian pihaknya tidak berani ngojah parab (menyebut nama) secara pasti siapa saja yang bertsana di masing-masing pelinggih. Namun, diyakini beliau yang berstana itu berasal dari Asta Dasa Giri atau delapan belas puncak yang ada di Bali.
Seperti Puncak Lempuyang Luhur, Puncak Tohlangkir, Puncak Andakasa, Puncak Batukaru, Puncak Trate Bang, Pucak Manik, Puncak Pulaki, Pucak Mangu, Puncak Bukit Sangkur, Pucak Padang Dawa, Puncak Gunung Raung, Puncak Silayukti, Puncak Beratan, Pucak Silangjana, Puncak Byaha, Byasmundi, Pucak Beratan dan Pucak Sraya.
Dikisahkan Jro Mangku Nyoman Pening keberadaan Pura Pucak Luhur Sari, diyakini sudah ada sejak abad ke -8. Dari penuturan para pendahulunya, konon pura ini sangat erat kaitannya dengan kisah dari Dewa Ayu Duwur Sari yang berstana di pura ini.
“Dari penuturan, katanya Beliau, Dewa Ayu Duwur Sari, sangat sedih karena beliau ditinggalkan oleh Suami yang sudah moksa,” jelasnya.
Hal inilah yang menyebabkan beliau meningis. Kesedihan beliau di dengar oleh Ida Bhatara Lingsir Ida Bhatara Nakuasir. Beliau bersama sang Patih Ki Demang Sepuang, akhirnya mendatangi Dewa Ayu Duwur Sari.
Setelah menanyakan mengapa Dewa Ayu Duwur Sari sedih, kemudian dijelaskannya bahwa kesedihannya lantaran sang suami sudah moksa menjadi Naga Gombang dan Dasar Gumi (kancing gumi).
Mendengar perkataan itu, Ida Bhatara Lingsir kemudian menghadirkan Ida Sesuhunan di gunung-gunung yang ada di Bali, dan disebut Asta Dasa Giri (delapan belas gunung). Sehingga ada pelinggih bebaturan. “Seperti sedang rapat. Dengan harapan mereka menjaga jagat Bali agar tetap ajeg. Disinilah ada peparuman,” ungkapnya.
Di Bali dikenal dengan uluning jagat Bali. Diantaranya Ulu Suci, Ulu merta, Ulu kKasta di Desa Pancasari. Ulu Merta adalah Catur danau yang ada di Bali. Ulun Suci adalah Ida Bhatara-Bhatari yang melinggih di gunung. Dan ulu kasta disebut yang sumbernya dari Besakih, ada di Pancasari, dan ini yang menyebabkan di Pancasari sangat medurgama.
“Di Purana Bangsul diulas tentang pelinggih-pelinggih di Pancasari. Dan sudah ada sebelum abad ke delapan. Sehingga disebut tertua di Bali. Totalnya ada 21 buah. Saya tidak berani ngojah. Sira manten parabane,” sebutnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika