Dikatakan Wayan Segara, tradisi ini diyakini dapat meningkatkan hasil pertanian dan tak dirusak hama penyakit. Sumbu yang didirikan di Pura Muter dan Bale Agung berisi simbol-simbol hewan pengrusak tanaman. Di antaranya kalibangbung (kupu - kupu), burung, dan omang - omang. Sedangkan pada bagian atas, ada bidadari sebagai simbol kesejahteraan.
Sebelum upacara ini dimulai, teruna desa mendirikan sumbu di Pura Muter. Sore harinya, dilanjutkan dengan mesumpah api (mecapah) oleh pelingsir desa yang ngayah di pura. Jumlah penglingsir (krama saing) adalah 24 orang.
Mesumpah api diikuti oleh para sedahan, pemangku, de bahan, serta de ngempet Desa Adat. Mereka mengelilingi api yang ada di lepekan. Selama mesumpah, api tak boleh padam walau hujan angin datang.
Jika api mati, itu menandakan bahwa ada kesalahan saat ngayah. Walaupun hujan petir, api harus tetap berjalan dan menyala. Esok harinya acara dilanjutkan dengan membuka sumbu di Pura Muter, dan dipindahkan ke Bale Agung. Malam harinya, sumpah api digelar kembali di Bale Agung oleh penglingsir Desa Adat.
Kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan tarian khas Desa Adat Asak. Wayan Segara menyebut, Usaba Sumbu adalah rangkaian nedunan Ida Bhatara Bagus Selonding di Bale Agung. “Proses nedunan memakai gamelan dan tari - tarian selonding. Selama penedunan jalan raya ditutup, serta lampu dipadamkan,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika