Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Barong Brutuk Desa Adat Trunyan Kraras Simbol Kesederhanaan, Dipecut Cemeti Sebagai Berkah

I Putu Mardika • Senin, 26 Februari 2024 | 03:14 WIB

 

Barong Brutuk di Desa Adat Trunyan, Kecamatan Kintamani, Bangli saat Purnama Kapat di Pura Pancering Jagat, Desa Trunyan.
Barong Brutuk di Desa Adat Trunyan, Kecamatan Kintamani, Bangli saat Purnama Kapat di Pura Pancering Jagat, Desa Trunyan.
JEMBRANA EXPRESS-Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Bangli tak hanya dikenal dengan ritual pemakaman Mepasah. Namun juga kesenian sakral Barong Brutuk yang dipentaskan setiap dua tahun sekali saat Purnama Sasih Kapat di Pura Pancering Jagat Desa Trunyan. Barong Brutuk yang khas dengan kostum daun kraras (daun pisang kering) ini memiliki mitologi yang erat dengan perwujudan Ida Bhatara Ratu Sakti Pancering Jagat.

Wakil Bendesa Adat Trunyan, Jero Mangku Permana menjelaskan secara mitologi, busana tari barong Brutuk yaitu topeng diyakini merupakan perwujudan Ida Bhatara Ratu Sakti Pancering Jagat dan juga ilen-ilen nya. Busana dari daun kraras menegaskan bahwa pada saat Ratu Sakti Pancering Jagat datang ke Desa Trunyan bersama dengan ilen-ilen nya menggunakan pakaian yang sangat sederhana.

Penggunaan daun pisang tua (kraras) pada busana barong Brutuk yang disebut bulu bukanlah tanpa alasan. Daun kraras ini harus diambil dari pohon pisang jenis tertentu, yakni jenis pisang temaga, pisang dangsaba, dan pisang ketip.

Daun-daun pisang ini harus diambil dari desa-desa tertentu, yang konon ratusan tahun yang lalu telah mempunyai hubungan ritual tradisional dengan Trunyan. Desa-desa itu merupakan Desa Pinggan, Desa Blandingan, dan Desa Bayung

Masyarakat Trunyan meyakini bahwa daun kraras yang dipakai oleh penari Brutuk sebagai simbol kesuburan, menjaga lingkungan, melestarikan alam dan dapat dipercaya sebagai jimat penolak bala yang diletakkan di dalam rumah penduduk.

Daun keraras yang selesai dipakai Barong Brutuk bisa disebarkan ke ladang pertanian mereka sebagai pupuk untuk kesuburan tanah. Sementara itu daun kraras juga dapat menjaga lingkungan, terbebas dari bahan-bahan non organik yang tidak membahayakan untuk umat manusia atau penduduk di DesaTrunyan.

Selain itu, penggunaan daun keraras juga mampu melestarikan alam serta memanfaatkan sumber daya alam yang ada di desa setempat. Proses pembuatan kostum kraras dengan cara dirajut berbentuk rumbai-rumbai. Cara memakainya cukup dengan mengikatkkan pada bahu dan bagian-bagian tubuh penari

Dikatakan Mangku Permana, Topeng Barong Brutuk disimpan di meru tumpang pitu yang ada di areal Pura Pancering Jagat Desa Trunyan. Uniknya yang dapat melihatnya hanya paduluan pemangku dan juga truna yang akan mementaskan Tari Barong Brutuk ini.

Keyakinan ini pun sudah terjadi sejak dahulu secara turun temurun. Busana yang dipakai oleh Tari Barong Brutuk yaitu Daun pisang yang sudah kering (kraras) merupakan simbol pakaian yang dipakai oleh Ratu Sakti Pancering Jagat dan juga ilen-ilen nya sewaktu datang ke Desa Trunyan.

Daun pisang inipun harus dicari di Desa Pinggan, Kintamani karena pada zaman dahulu desa-desa yang ada disekitaran Desa Trunyan wajib membayar utpeti kepada Desa Trunyan. Karena zaman dahulu di Desa Pinggan banyak terdapat pohon pisang. Utpeti itu wajib dibayar saat akan melaksanakan Upacara Purnamaning Kapat.

Selain menggunakan busana daun kraras, Tari Barong Brutuk juga menggunakan sarana berupa Pecut Tiing Sulan. Sarana ini merupakan simbol dari pelindung yang digunakan oleh Ratu Sakti Pancering Jagat dan juga ilen-ilen nya saat datang ke Desa Trunyan.

Diceritakan pada waktu tersebut terdapat banyak halangan yang dijumpai dalam perjalanannya.  Selanjutnya gerakan mencambuk pada Tari Barong Brutuk dapat menyembuhkan penonton dari penyakit atau aura negatif jika penonton terkena cambukan dari pecut tiing sulan dan juga bisa menyucikan areal Pura Pancering Jagat.

“Diantara penonton, ada juga yang sengaja meminta untuk dicambuk lalu ada gerakan memberikan persembahan kepada penonton yang berada di sisi Pura Pancering Jagat saat pementasan yang dilakukan oleh Barong Brutuk. Kami meyakini pecut ini adalah berkah yang luar biasa bagi yang mendapatkan persembahan dari Barong Brutuk,” ungkapnya.

Pecut atau cemeti yang dibawa oleh semua penari Brutuk memiliki panjang bervariasi. Mulai dari enam hingga belasan meter. Pecut-pecut ini dibuat dari tiing sulang (bambu sulang) atau masyarakat setempat sering menyebutnya dengan paleg dan bagu (kulit waru) yang ujungnya dililit dengan lateng lidi jaka.

Pecut-pecut ini dibuat oleh orang-orang tertentu yang mampu merangkai bambu dan kulit waru menjadi pecut yang kuat. Pecut dipakai oleh para penari dengan mengayunkan pecutnya kepada penonton untuk mempertahankan diri mereka agar kostum mereka tidak dapat diambil atau dilucuti oleh para penonton.

Pada umumnya para penari membawa dua pecut sebagai cadangan kalau terjadi hal yang tidak diinginkan, seperti patah atau talinya lepas, dan lain-lain. Sebelum mulai pementasan pecut-pecut itu dibawa oleh pengabih atau kerabat penari, saat mengelilingi tembok pura.

Di sisi lain, pementasan Tari Barong Brutuk memiliki mitos dalam gerakan mengibaskan kraras bagian atas. Konon ini terdapat mitologi bahwa Sang Dewa harus mampu menangkap perempuan yang ditemuinya di Desa Trunyan.

“Dalam adegan ini Sang Dewa berusaha menghalang-halangi Sang Dewi melewati garisnya, dan berulang kali berusaha menangkapnya saat ada kesempatan. Sang Dewa tidak perlu melewati garis jagaannya, namun Sang Dewilah yang berusaha melewati garis pemisah tersebut, sehingga Sang Dewa harus sigap,” jelasnya.

Di satu sisi Sang Dewa diharuskan berusaha menangkap Sang Dewi. Sedangkan di sisi lain, Sang Dewi diharuskan sedapat mungkin menghindari tangkapan Sang Dewa. Suatu ketika, saat Sang Dewi berusaha melewati garis pembatas, maka secepat kilat Sang Dewa berhasil menyergapnya, sehingga keduanya bersatu dalam pelukan yang erat sekali.

Masyarakat Desa Terunyan akan masuryak diliputi kegembiraan yang luar biasa. Dengan tertangkapnya Sang Dewi oleh Sang Dewa, maka, diyakini akan ada anugerah kesuburan yang berlimpah kepada masyarakat Desa Terunyan.

“Sehingga Desa Trunyan menjadi gemah ripah loh jinawi, dalam artian diliputi kemakmuran, kesejahteraan, keselamatan, dan melimpahnya hasil panen, baik pertanian, perkebunan, dan juga peternakan serta perikanan yang digarap masyarakat,” ungkapnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#kintamani #desa trunyan #Ida Bhatara Ratu Sakti Pancering Jagat #bangli #kraras #barong brutuk