Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Tradisi Nyeeb Simbol Penyucian Kedua Pasangan

I Putu Mardika • Jumat, 1 Maret 2024 | 22:04 WIB

Prosesi nyeeb yang diikuti oleh pasangan suami istri di Desa Adat Tajun tepatnya di depan Pura Bale Agung pada Pinanggal ping lima, Sasih Kedasa
Prosesi nyeeb yang diikuti oleh pasangan suami istri di Desa Adat Tajun tepatnya di depan Pura Bale Agung pada Pinanggal ping lima, Sasih Kedasa
JEMBRANA EXPRESS-Tradisi Nyeeb di Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng dilakukan sebagai simbol pembersihan atau penyucian kepada kedua pasangan baik secara jasmani dan rohani. Selain itu, bertujuan untuk memulai menapaki kehidupan berumah tangga atau Grahasta Asrama, untuk mempunyai pikiran yang bijaksana dan pengetahuan baru.

Selain itu tradisi Nyeeb juga mengajarkan masyarakat di Desa Tajun untuk melihat kegiatan krama desa adat pada pelaksanaan suatu upacara baik kegiatan krama desa adat yang terdahulu dan yang sekarang. Setelah melakukan tradisi Nyeeb tidak lupa masyarakat di Desa Tajun juga mulai memiliki hak dan kewajiban seperti krama lain yaitu kena ayah-ayahan di desa adat.

Jro Nyoman Sumeka menjelaskan ada sejumlah prosesi pelaksanaan tradisi Nyeeb. Pertama, diawali dengan matur piuning untuk memohon izin bahwa akan diadakannya tradisi Nyeeb agar kegiatan dari awal sampai akhir berjalan dengan lancar,

Prosesi selanjutnya adalah natab banten byakala, prayascita, durmanggala, dan sapuh lara untuk menyucikan pasangan suami dan istri sebelum menjadi krama anyar. Kemudian mererebu merupakan salah satu pembersihan diri kepada peserta Nyeeb yang dirasa masih kotor/leteh dan kembali suci secara lahir dan bathin.

Usai merebu, dilanjutkan dengan natab banten bakti sorohan Nyeeb. Saat natab banten tersebut menggunakan 2 ayam jantan dan betina. Ayam jantan dinamakan ayam biing sedangkan ayam betina dinamakan ayam lebaa. Kedua ayam tersebut berwarna merah dan melambangkan kebranian yang artinya laki-laki dan perempuan berani meninggalkan masa lajang untuk lanjut ke tahap Grahasta Asrama,

Kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan tradisi Nyeeb, menyiram api (Nyeeb) pada paon pewaregan artinya memberi kehidupan pada krama baru. Mereka diyakini sudah mebersih sehingga dinyatakan sah menjadi krama anyar di desa adat dan dinas.

“Kemudian ada pula prosesi menginjak kekeb artinya untuk menghilangkan kekotoran dan membakar kegelapan pada diri manusia dan menjadi bersih” paparnya.

keenam persembahyangan bersama yang bertujuan untuk memohon keselamatan ke pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan juga ke pada Hyang Semara Ratih supaya perkawinan dapat berjalan dengan langgeng, harmoni dan mempunyai keturunan,

Selain itu, dipastikan ada prosesi sambrama wacana yang kerap dibawakan oleh kelihan desa adat dan perbekel. Mereka memberikan pandangan-pandangan kepada warga barunya untuk ingat dan tidak lupa dengan tanggung jawab penuh untuk melaksanakan tugas-tugas krama desa adat, bagi masyarakat yang sudah melaksanakan tradisi Nyeeb.

Jro Nyoman Sumeka memaparkan banten yang digunakan pada upacara Nyeeb. Diantaranya banten piuning, suci surya upesaksi, sesayut prayascita, sesayut durmanggala, banten sapuh lara, sesayut byakala,  rebuan, banten prani, banten bangun urip, bantek bakti sorohan Nyeeb, dan segehan agung.

Ia berharap, setelah prosesi nyeeb dilaksanakan, krama bisa ngayah dengan rulus ikhlas dalam menjalankan tugas dan kewajiban sebagai krama di Desa Adat Tajun. “Para pengantin yang baru mekrama anyar itu tetap menjalankan prinsip tri kaya parisuda. Mulai berpikir yang baik, berbicara yang baik dan berbuat yang baik. Karena itu modal dalam bergaul,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#tradisi nyeeb #kubutambahan #desa tajun #asrama #penyucian #grahasta