Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Tradisi Nulak Damar di Desa Adat Tenganan Dauh Tukad Gunakan Sarana Damar, Diletakkan di Jantera  

I Putu Mardika • Sabtu, 2 Maret 2024 | 19:07 WIB

Prosesi puncak Nulak Damar dilaksanakan di Desa Adat Tenganan Dauh Tukad, Kecamatan Manggis, Karangasem
Prosesi puncak Nulak Damar dilaksanakan di Desa Adat Tenganan Dauh Tukad, Kecamatan Manggis, Karangasem
JEMBRANA EXPRESS-Desa Adat Tenganan Dauh Tukad, Kecamatan Manggis, Karangasem memiliki tradisi Nulak Damar. Tradisi yang merupakan rangkaian dari Usaba Sambah ini erat kaitannya dengan prosesi medaha dan metruna.

Usaba Sambah adalah upacara yang dilakukan pada bulan kelima menurut kalender setempat atau sekitar sasih karo menurut kalender bali atau sekitar bulan Juli. Acara usaba sambah pelaksanaannya dipusatkan di Pura Bale Agung, di banjar kaja dan banjar kelod.

Salah satu tujuan utama pelaksanaan upacara usaba sambah adalah untuk melestarikan tradisi yang terus berlangsung sampai saat ini yaitu tradisi meteruna dan medaha, menyerupai upacara menek kelih.

Meteruna adalah prosesi acara akil balik (menginjak remaja) bagi pria (teruna anyar). Sehingga nantinya dapat bergabung ke dalam komunitas pemuda yang ada (sekaa teruna). Sedangkan medaha sebutan untuk remaja putri untuk prosesi yang sama. Prosesi Meteruna dan Medaha inilah yang merupakan prosesi pokok (utama) selama rangkaian usaba sambah, sedangkan acara nulak damar adalah prosesi awal dari rangkaian usaba sambah.

Bendesa Adat Tenganan Dauh Tukad, Wayan Tisna mengatakan nulak damar, terdiri dari kata nulak dan kata damar. Kata nulak berasal dari kata tulak yang yang berarti olah atau putar. Kata Damar berarti Lampu, Cahaya atau Penerang. Jadi kata Nulak Damar bermakna mengolah kesadaran, dari gelap mendapat terang sehingga mendapatkan pencerahan dalam makna spiritual.

Sesuai namanya, nulak damar mempergunakan damar yakni sarana yang terbuat dari kapas/linting berupa lentera minyak kelapa yang menyerupai api pedipaan homa yadnya. Pedipaan ditempatkan dalam tempayan kecil terbuat dari tanah liat dan tempat damarnya dinamakan penyembean.

“Damar ini sebagai sarana pokok dengan beberapa sarana pelengkap berupa kain gringsing, cengceng ukuran kecil, bebantenan (sesaji) dan perlengkapan sarana lainnya yang diambil dari hasil alam disekitarnya dan sarana utama dalam upacara ini berupa api,” katanya.

Sarana pokok lainnya mempergunakan Ayunan atau jantera, secara fisik ayunan berbentuk tanda tambah. Ayunan merupakan simbolisasi dari Tapak Dara. Damar dengan kelengkapan sarana bebantenan yang lainnya diletakan di salah satu tempat duduk ayunan tersebut. Kemudian ayunan mulai digerakan perlahan memutar searah jarum jam sebanyak tiga kali putaran dan kearah sebaliknya sebanyak tiga kali putaran.

Dikatakan Wayan Tisna, ada sejumlah tahapan yang dilakukan mulai dari persiapan, prosesi puncak dan pasca ritual nulak damar. Prosesi diawali dengan ritual mepemali sebagai tanda awal dimulainya aci sasih kelima yaitu tepatnya 14 hari sebelum puncak upacara nulak damar.

Ini dilakukan di masing-masing banjar, baik banjar kaje maupun banjar kelod. Upacara selanjutnya adalah ngelanlan, nyujukang pemidang, tempatnya di masing-masing banjar, waktunya di pagi hari, sedangkan sorenya dilanjutkan dengan acara ngiderang base, bertempat di pura puseh, acara ini dilaksanakan 5 hari sebelum puncak upacara nulak damar.

Pada hari ini warga banjar dan sekaa teruna masing-masing membawa alat-alat untuk perlengkapan sarana pemasangan ayunan dan sarana payas  ayunan. Pada keesokan harinya setelah upacara ngelanlan, dilaksanakan upacara memiut.

“Memiut bertujuan untuk melakukan persembahyangan keliling, bermakna mohon ijin kepada para dewa agar mendapatkan keselamatan dalam rangka mulainya upacara usaba sambah. Upacara memiut dilakukan 4 hari sebelum puncak upacara nulak damar,” paparnya.

Dua hari setelah upacara memiut, dilaksanakan acara nyujukang ayunan atau pemasangan ayunan. Di Desa Adat Tenganan Dauh Tukad memiliki 2 unit ayunan desa, yang dipasang di masing-masing banjar, yaitu di pasang di depan bale banjar kelod dan di depan bale banjar kaja. Proses pemasangan ayunan dilaksanakan 2 hari sebelum pelaksanaan puncak upacara nulak damar.

Pada saat acara nyujukang ayunan, melibatkan kelompok masyarakat seperti Anggota Teruna, banjar kaje dan banjar kelod. Di banjar kaje dipasang ayunan desa yang berisikan delapan tempat duduk, yaitu masing-masing posisi terdiri dari dua tempat duduk yakni dua diatas, dua dibawah, dua didepan dan dua dibelakang. Sedangkan di banjar kelod di pasang ayunan yang memiliki empat tempat duduk.

Perbedaan jumlah tempat duduk ayunan dengan alasan bahwa daha dari banjar kelod yang komunitasnya lebih besar akan mayunan ngajanang atau naik ayunan di banjar kaje. Sedangkan daha dari banjar kaje yang jumlah anggotanya lebih sedikit akan mayunan ngelodang atau naik ayunan di banjar kelod.

“Setelah pelaksanaan acara nyujukang ayunan selesai, anggota teruna sangkep untuk menerima pembagian prani dari warga banjar. Prani adalah salah satu jenis jajanan khas Tenganan Dauh Tukad,” ungkapnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#nulak damar #bale agung #metruna #Manggis Karangasem #Desa Adat Tenganan Dauh Tukad #medaha