JEMBRANA EXPRESS - Setiap tahun, menjelang peringatan Tahun Baru Saka atau Nyepi, masyarakat Hindu Bali mempersiapkan diri dengan serangkaian ritual yang kaya akan makna dan filosofi.
Salah satu ritual yang paling mencolok adalah Tawur Agung Kasanga, yang menarik perhatian dengan penggunaan 108 Nasi Cacah yang dipersembahkan dalam upacara pada hari Pengerupukan tersebut.
Namun, apa sebenarnya makna di balik angka 108 in bagi umat Hindu Bali?
Menurut kajian yang mendalam dari Pasraman Sastra Kencana, Banjar Tegak Gede, Desa Yehembang Kangin, Mendoyo, Jembrana, angka 108 bukanlah sekadar angka sembarangan.
Ia memiliki keterkaitan erat dengan konsep energi yang melingkupi perayaan tersebut.
Guru Nabe Budiarsa dari Pasraman Sastra Kencana menjelaskan bahwa angka 108 mengandung makna yang mendalam dalam ajaran sastra Hindu Bali.
Pertama-tama, angka ini terkait dengan konsep "urip" (kehidupan) masing-masing aksara dalam konsep Aksara.
Menurut Pasraman Sastra Kencana, total urip dari aksara-aksara tersebut membentuk angka 108, yang merupakan jumlah yang dianggap sakral dalam tradisi Hindu Bali.
Lebih jauh lagi, angka 108 juga berkaitan dengan konsep kekuatan yang dikenal sebagai 108 Bhuta Kala.
Menurut ajaran sastra Hindu Bali, untuk mencapai kesucian alam dan keseimbangan energi, 108 Bhuta Kala ini harus didatangkan ke permukiman dan dinetralisasi melalui Caru Tawur Agung Kasanga.
Dalam prosesi ritual, 108 Nasi Cacah dipersiapkan dengan ketentuan yang sangat spesifik.
Posisi dan jumlah nasi cacah yang disusun melambangkan penyatuan unsur langit dan bumi serta keselarasan energi alam.
Caru Ayam Brumbun dianggap sebagai unsur penyatuan bumi dan langit, menyelaraskan unsur-unsur alam untuk menciptakan harmoni yang diinginkan.
Ritual Tawur Agung Kasanga bukanlah sekadar seremoni adat.
Ia juga menjadi simbol dari upaya menjaga keseimbangan dan kesucian alam semesta, serta hubungan yang erat antara manusia dengan alam.
Dalam setiap langkahnya, ritual ini mengajarkan tentang pentingnya merenungkan dan menghormati kekuatan alam yang mengelilingi kita.
Dengan demikian, 108 Nasi Cacah bukan hanya merupakan bagian dari upacara tradisional, tetapi juga merupakan simbol dari filosofi yang mendalam yang menjadi dasar keyakinan dan prinsip spiritual masyarakat Hindu Bali.
Sebuah kesempatan untuk menghargai kekayaan budaya dan spiritualitas yang melandasi kehidupan mereka. ***