JEMBRANA EXPRESS - Suasana istimewa kembali menyapa umat Hindu di Bali saat perayaan Hari Raya Kuningan yang dirayakan sepuluh hari setelah Galungan.
Tradisi khas Hindu Bali yang ditandai dengan pemasangan tamiang pada setiap pelinggih dan rumah menjadi sorotan utama dalam memperingati momen ini.
Hari Raya Kuningan, yang dirayakan setiap enam bulan sekali atau sepuluh hari setelah Galungan, merupakan penutup dari rangkaian perayaan Galungan bagi umat Hindu di Bali.
Salah satu ciri khasnya adalah pembuatan tamiang yang melambangkan simbolisme filosofis yang mendalam.
Tamiang bukan semata dekorasi, namun memiliki makna yang dalam bagi umat Hindu Bali.
Prof. I Gusti Ngurah Sudiana, tokoh Hindu di Bali, menjelaskan bahwa tamiang tidak hanya sekadar memperhatikan keindahan visual, tetapi juga mengandung filosofi dan tattwa yang mendalam.
Meskipun dalam perkembangannya, beberapa jenis tamiang sering dimanfaatkan sebagai dekorasi semata, khususnya dalam upacara non-adat yang kurang sakral.
Hal ini menimbulkan kesulitan bagi masyarakat dalam membedakan mana yang bersifat dekoratif dan yang bersifat sakral.
Pembuatan tamiang mengikuti aturan tersendiri, mengacu pada makna filosofis seperti mengarak ke sembilan penjuru mata angin, yang merupakan simbol dari Dewata Nawa Sanga.
Keempat jejahitan pokok dan sibeh memiliki peran penting dalam pembuatan tamiang, sementara reringgitan atau tetuasan diharapkan dibuat dengan seni dan indah tanpa meninggalkan konsep aslinya.
Sebagai bagian dari upacara suci, pembuatan tamiang menjadi simbol penting dalam mempertahankan warisan budaya dan spiritualitas Hindu Bali.
Dengan memahami makna dan filosofi di balik tradisi ini, diharapkan masyarakat dapat memperkuat nilai-nilai kearifan lokal dan menjaga kelestarian tradisi tersebut untuk generasi mendatang. ***
Editor : I Putu Suyatra