Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Kekuatan Dewa Ganapati Netralisir Panca Durga

I Putu Mardika • Jumat, 8 Maret 2024 | 03:11 WIB

Kober Ganapati saat Taur Kesanga yang difungsikan untuk nyomia bhuta kala
Kober Ganapati saat Taur Kesanga yang difungsikan untuk nyomia bhuta kala
JEMBRANA EXPRESS-Kober Ganesha saat Taur Kesanga berfungsi sebagai simbol atau nyasa guna menunjukkan bahwa dalam ritual itu dilakukan pemanggilan dan pemujaan terhadap Ganesha. 

Dosen Filsafat STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Made Gami Sandi Untara, dalam kober Ganesha digambarkan dengan membawa senjata cakra.

Pemakaian cakra pada tangan kanan Ganesha merupakan simbol adanya penguatan yang dilakukan oleh Ganesha sebagai penghalang terhadap malapetaka yang bersumberkan pada bhuta kala.

Selanjutnya, penggambaran senjata Trisula tidak saja dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Ganesha adalah putra Siwa. Tetapi juga untuk memperkuat posisinya sebagai avighnesvara.

Kehadiran trisula memberikan petunjuk bahwa apa yang dilakukan Ganesha telah didukung oleh Siwa.

“Dewa Siwa berstatus sebagai Bhutanatha atau rajanya para bhuta kala. Karena itu, dengan melihat senjata Siwa maka bhuta kala diharapkan menjauh dari lingkungan manusia,” katanya.

Di sebelah kanan Ganesha terdapat genta atau bajra, yakni senjata Dewa Iswara. Genta merupakan simbol makrokosmos.

Sesuai dengan sistem kesepadanan yang berlaku pada masyarakat Bali, bahwa makrokosmos bersepadan dengan mikrokosmos, seperti desa adat, rumah, dan manusia.

Karena itu, pemasangan genta pada kober Ganesha bermakna untuk menekankan kesemestaan penolakan bala maupun pengelukatan yang dilakukan Ganesha.

Tidak saja berkaitan dengan makrokosmos, tetapi juga mikrokosmos, seperti desa, rumah tempat tinggal, dan manusianya.

Di sebelah kiri terdapat gambar panah nagapasa, yakni senjata andalan Mahadewa. Nagapasa sering pula disamakan dengan nagabanda, yakni naga sebagai tali.

Dalam Ramayana senjata nagapasa dikenal dengan nama nagastrapasa yang berarti panah ular jerat.

Senjata lainnya adalah gada yang terletak pada bagian bawah Ganesha. Kehebatan senjata gada dalam mengalahkan kejahatan terlihat dari apa yang dilakukan Bhima. Bhima berhasil mengalahkan musuh-musuhnya termasuk Duryadhana, yakni pahanya remuk, karena terkena pukulan gadanya Sang Bhima.

Sebetulnya yang paling vital, gada adalah senjata Dewa Brahma atau Dewa Api. Api bisa menghancurkan apa saja, termasuk keletehan atau mala.

“Karena itu, tidak mengherankan jika di Bali sering terlihat bahwa seseorang yang baru pulang dari ngelayat atau mejenukan biasanya meminta pembersihan di dapur dengan cara melemparkan air ke atap dapur. Air itu dipakai membasuhi kepala, sehingga keletehan atau mala menjadi sirna. bhuta kala pun takut terhadap api,” paparnya.

Apabila keseluruhan senjata yang tersurat pada kober Ganesha, yakni trisula, cakra, genta, nagapasa, dan gada, lalu dikaitkan dengan pemiliknya, yakni Siwa, Wisnu, Iswara, Mahadewa, dan Brahma, maka dilihat dari segi unsurnya memperlihatkan kesamaan dengan dewa-dewa yang dipuja pada banten catur.

Lanjut Gami, hal ini menandakan empat senjata dalam kober pada hakikatnya bermakna pula untuk menyimbolkan empat kemahakuasaan Tuhan atau Siwa.

Hanya saja, letak senjata Dewa Iswara dan Mahadewa terbalik, sehingga tidak sesuai dengan pengider-ider.

Penyucian maupun penangkalan marabahaya secara niskala pada udara, tanah, dan air tidak bisa dilepaskan dari kepercayaan tentang penyebaran penyakit terhadap manusia yang dilakukan oleh Panca Durga.

Panca Durga yang berstatus sebagai tangan kanan Bhatari Durga bertugas untuk menimbulkan penyakit bagi manusia, yakni dengan cara menyebarkan atau menularkannya melalui udara, air, dan tanah. 

“Penyakit itu menjalar secara niskala, sehingga pengendaliannya pun harus menggunakan cara niskala, yakni ritual yang bersifat religius magis,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#ganesha #taur kesanga #Kober