Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Tradisi Mecacar di Cempaga, Kecamatan Banjar Simbol Penghormatan untuk Leluhur, Dilakukan saat Galungan

I Putu Mardika • Sabtu, 9 Maret 2024 | 00:31 WIB

 

Tradisi Mecacar di Desa Adat Cempaga, Kecamatan Banjar, Buleleng serangkaian Galungan dan Kuningan
Tradisi Mecacar di Desa Adat Cempaga, Kecamatan Banjar, Buleleng serangkaian Galungan dan Kuningan
JEMBRANA EXPRESS-Desa Adat Cempaga, Kecamatan Banjar, Buleleng rutin menggelar tradisi mecacar yang dilaksanakan saat hari Galungan dan Kuningan. Tradisi yang diikuti krama maupun truna ini sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhurnya.

Mecacar merupakan bentuk upacara tradisi persembahan terhadap roh leluhur yang dilakukan oleh masyarakat Desa Cempaga. Upacara ini diawali dengan meboros (berburu) yakni memburu kijang untuk sarana ritual mecacar.

Kelian Adat Cempaga, Putu Karya Darma tradisi Mecacar adalah sistem pembagian hasil berupa makanan sisa upacara yang diberikan kepada warga secara merata. Prosesi Mecacar ini diawali dari pagi hingga dini hari.

Pada pagi hari masyarakat Desa Cempaga menghaturkan ayahan (persembahan) di Pura Desa. Mereka membawa satu batang kayu bakar, satu buah kelapa, satu buah klatkat (anyaman bambu), dan daun pisang.

Kemudian diikuti dengan pemotongan babi. Yang diberikan kewenangan menyemblih babi adalah warga khusus yang ditunjuk secara turun temurun.

Babi tersebut kemudian dipakai untuk sarana upacara, selanjutnya di olah menjadi lawar merah manca warna, urutan, sate lilit dan lainya, “Saat proses mebat atau memasak, dilarang untuk mencicipnya,” katanya.

Selanjutnya pada malam hari krama istri mengahturkan (mempersembhkan) nasi di Pura Desa untuk dipakai Mecacar.

Pada saat pukul 01:00 Wita para pemuda Desa Cempaga dan Krama Desa bersiap untuk melaksanakan Upacara Mecacar yang dimana dilaksanakan di Bale Truna dan Bale Agung.

Upacara tersebut dilakukan dengan duduk melingkar di atas Bale. Selanjutnya daun pisang ditata sedemikian rupa sampai membentuk lingkaran. Dilanjutkan dengan pencetakan nasi yang menggunakan sebuah batok kelapa.

“Nasi tersebut ditata sedemikian rupa, dengan diisi lawar, sate, dan urutan. Nasi kemuidan ditutup kembali dengan daun pisang, kelatkat (anyaman bambu) dan pasegeha,” sebut Karya Darma.

Prosesi selanjutnya, masing-masing perwakilan karma Desa yang disebut Sayan Desa menghaturkan cacaran tersebut di masing-masing Bale. Pasegehan dihaturkan di masing-masing Palinggih dan para Ulu Desa (Ulu Daha, Ulu Truna, serta Prajuru Desa).

Ia menambahkan, dulu mecacar hanya sekedar pemujaan atau persembahan kepada roh menjadi upacara penghormatan serta doa bagi para leluhur.

“Karena itu masyarakat Desa Cempaga biasanya melaksanakan upacara tradisi tersebut pada saat Hari Raya Galungan, Hari Raya Kuningan, dan Sabha Muaya,” imbuhnya.

Pada umumnya pelaksanaan Mecacar tersebut dibagi kedalam 3 bagian diantaranya yakni: Mebat, Masagi banten, Mecacar.

Mecacar diawali dengan Mebat merupakan serangkaian prosesi upacara mecacar yang dimana karma (masyarakat) Desa Cempaga menghaturkan bakti ke Pura Desa dengan membawa satu batang kayu bakar, satu buah kelapa, satu klatkat (pancak) ,dan daun pisang.

Bahan – bahan tersebut dibawa oleh para lelaki yang sudah berkeluarga, bergotong royong membuat lawar, sate lilit, urutan, dengan menggunakan daging babi sebagai sarananya.

Pemuda Desa hanya membantu pada saat pembuatan sate dan pembakaran sate ada hal unik didalamnya yang dimana masyarakat sama sekali tidak boleh mencicipi makanan yang mereka buat selama porosesi tersebut berjalan.

Pada saat prosesi Mebat diiringi gambelan dengan nada yang berciri khas. Berakhirnya prosesi Mebat kemudian dilanjutkan dengan prosesi Masagi banten yang dilakukan pada saat malam hari yakni pada pukul 24:00 Wita.

Prosesi ini dilaksanakan di Jeroan Pura Desa Cempaga oleh para pemuda Desa yang sudah beranjak dewasa, dan pada saat prosesi tersebut para pemuda wajib membawa sebilah keris kemudian diselipkan dibelakang pinggang.

“Keris adalah sebuah simbol bersatunya seorang hamba dengan Tuhan,” paparnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Banjar #galungan dan kuningan #mecacar #buleleng #desa adat cempaga