Sarana dengan tokoh Malen-Merdah ini digunakan untuk menetralisir energi negatif pasca mengalami musibah. Dengan harapan agar tidak trauma yang berkepanjangan.
Ngulapin dengan sarana Wayang Klupak Tiying ini dilakukan dimana peristiwa buruk terjadi. Namun, bisa juga dilakukan di lebuh/pintu masuk rumah sebagai pengacepan untuk memohon pemulihan psikologis pasca mengalami musibah.
Bendesa Adat Jro Kuta Batubulan, I Made Suranata mengatakan mitologi Wayang Klupak tiying bermula saat kerjadinya perjanjian bersyarat oleh Kerajaan Sukhet dengan Kaum Bujangga.
Perjanjian itu menyebutkan “barang siapa yang jatuh atau kecelakaan di wilayah jalan desa adat Jro Kuta, Batubulan. Wajib melaksanakan upacara ngulapan dengan memakai sarana wayang yang terbuat dari klopekan bambu”
Wujud wayang yang dibuat dari belahan bambu ini adalah tokoh Merdah dan Tualen. Bukan tanpa alasan mengapa menggunakan tokoh Tualen-Merdah dalam sarana Kelupak Tiying. Tokoh Tualen dalam pewayangan juga dikenal dengan Bhatara Ismaya.
Dikuatkan dalam mitologinya Sanghyang Ismaya bersaudara dengan Dewa Siwa (Bhatara Guru). Sanghyang Ismaya adalah putra kedua Sanghyang Tunggal dengan Dewi Wirandi/Rekatawati, putrid Prabu Yuyut/Resi Rekatama, raja Samodralaya.
Diceritakan dalam sebuah kisah mitologi yang sangat melegenda Dewa Siwa di beri mandat atau tugas memimpin suarga loka sedangkan Sanghyang Ismaya atau Malen (Tualen) juga diberi mandat untuk menjaga keharmonisan alam semesta.
Wayang Malen selain sebagai simbol dari Siwa itu sendiri, dan merupakan tokoh yang bijaksana dalam bertatakrama dan setiap memberikan tuntunan ataupun tutur selalu sesuai dengan satra-sastra suci Hindu.
Sedangkan tokoh Wayang Merdah merupakan salah satu tokoh punakawan dalam tradisi pewayangan di Bali. Tradisi masyarakat Bali umumnya merdah merupakan salah satu putera Tualen.
Dalam pertunjukan wayang merdah sering muncul bersama Tualen melakukan dialog penuh lelucon namun penuh nasihat
Wayang Merdah digunakan sebagai contoh anak yang berbakti kepada orang tua, cerdas, dan bijaksana. Wayang Merdah dalam setiap langkah dan gerak-geriknya sekaligus menjadi anak yang Suputra.
Tokoh pewayangan Malen dan Merdah memang diyakini dari jaman dahulu sebagai penyelamat. Karena Malen adalah simbol dari Ismaya, Antaga, Siwa.
Sedangkan Merdah memiliki sifat yang adiluhur karena taat dan bermoral tinggi serta ia memiliki kecerdasan, Maka dari pada itu kedua tokoh itu diyakini sebagai penyelamat dan penetralisir dari hal – hal negatif.
“Ritual upacara ngulapin wayang klupak tiying memang sudah dari leluhur dulu melakukan tradisi ini. Kami meyakini sebagai solusi terbaik untuk menetrlisir hal-hal negatif yang terjadi disaat masyarakat mengalami kecelakan atau musibah yang menimbulkan mala/kesakitan,” jelasnya.
Sarana bebantenan yang digunakan yang pertama banten peras. Banten peras untuk mengesahkan atau meresmikan suatu upacara yang telah diselenggarakan secara lahir bathin. Disebutkan juga bahwa banten peras, dari kata peras yang dimaknai perasida yang artinya berhasil.
Banten penyeneng juga disebut sebagai Tahenan/Pabuat merupakan jenis jejaitan yang dipergunakan dalam tetandingan banten penyeneng dengan ruang tiga masing-masing berisi beras, benang, pis bolong, nasi aon (nasi dicampur abu gosok) dan porosan yang berfungsi sebagai alat untuk nuntun, menurunkan prabhawa Hyang Widhi.
“Ada pula Banten Tulung Urip adalah berasal dari kata tulung yang artinya tolong dan urip yang artinya hidup. Sarana banten ini diyakini secara filosofis untuk menolong hidup manusia,” imbuhnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika