Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Pelinggih Konco di Pura Penyagjagan Catur Menjadi Cikal Bakal Nama Lampu, Obor Mati tanda Bangun Perkampungan

I Putu Mardika • Rabu, 20 Maret 2024 | 04:28 WIB

Pura Penyagjagan di Desa Catur Kintamani Bangli sebagai bukti akulturasi Hindu-Konghucu di Bali
Pura Penyagjagan di Desa Catur Kintamani Bangli sebagai bukti akulturasi Hindu-Konghucu di Bali
JEMBRANA EXPRESS-Masuknya etnis Tionghoa ke Desa Catur, Kecamatan Kintamani, Bangli memiliki kisah tersendiri. Masuknya etnis Konghucu ke Desa Catur tentunya beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Bentuk akulturasi inilah kian menguatkan hubungan Hindu dan Tionghoa di Bali.

Hal ini ditandai dengan adanya Sanggah, Kemulan Taksu, Padmasari dan pelinggih lainnya yang terletak di bagian hulu rumahnya masyarakat di Catur. Namun dalam perayaan hari suci di Desa Catur juga mengalami adaptasi budaya antara Bali dan China.

Penyatuan Hindu dan Konghucu di Desa Catur dapat dilihat di Pura Penyagjagan pada Pelinggih Konco.

Pelinggih tersebut merupakan bentuk peleburan Hindu Konghucu dan sebagai tanda awal masuknya sinkretisme di Dusun Lampu, Desa Catur.

Keberadaan Pelinggih Konco di Pura Penyagjagan itu menjadi cikal-bakal lahirnya nama wilayah Lampu sebagai nama dusun di Desa Catur.

Pada saat menghadapi perang dengan pasukan lawan di perbatasan, masyarakat keturunan wajib membawa obor sebagai sumber cahaya.

Bendesa Adat Catur, I Made Wita menjelaskan tak sekadar perintah, membawa obor adalah sabda para leluhur kepada warga Tionghoa yang bersiap menghadang musuh. Konon, apabila obor menyala musuh akan kelimpungan.

Namun, karena warga etnis Cina merasa hanya diberi tugas menjaga wilayah saja (bukan ikut bertempur), mereka pun kembali ke satu wilayah yang kini dibangun Pura Penyagjagan.

Wita menjelaskan, warga Konghucu di Kintamani sudah ada sejak masa peperangan. Pura Penyagjagan sebagai tempat beristirahat saat perang memberikan sabda kepada para prajurit untuk membangun sebuah pelinggih di Pura tersebut.

Setelah terbangunnya Pelinggih Konco, para prajurit ini mendapatkan wahyu untuk membangun sebuah dusun di sekitaran Pura. Cara yang dilakukan yakni dengan membawa obor ke segala penjuru, apabila obor itu mati maka disitulah membangun sebuah desa

Pura Penyagjagan dijadikan tempat beristirahat dengan kondisi masih membawa obor. Ketika itu, warga mendapat sabda untuk membangun satu perkampungan.

Obor di bawa menyebar keseluruh penjuru, apabila obor mati di wilayah itu, maka di sanalah tempat membangun perkampungan.

Ditambahkan Bendesa Wita, setelah bergerak ke arah selatan, ditemukanlah obor yang mati pada suatu titik. Titik tersebut sekarang dinamai Dusun Lampu sebagai wilayah berhuninya warga Konghucu.

“Letak pemukiman etnis Tionghoa di banjar Lampu itu adalah ngomplek di sebelah kiri jalan, yang membentang dari pertigaan depan pasar desa Catur menuju ke arah barat sampai di batas banjar Lampu, sedangkan krama Hindu asli berada di sebelah kanan jalan (di sebelah utara jalan),” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Konghucu #kintamani #Desa Catur #hindu #bangli #Pura Penyagjagan #lampu #tionghoa