Seniman sekaligus budayawan asal Batan Buah, Desa Kesiman, Denpasar, Gede Anom Ranuara mengungkapkan jika ingin membuat lakar (bahan, Red) untuk tapel, maka disarankan saat kawulu baret kasa.
Sebab pertimbangannya karena kadar air dari kayu itu akan turun pada waktu itu, karena musim kering.
Selain itu menebang kayu juga bisa juga dilakukan saat sasih Karo Kasa. Pertimbangannya sama, karena musim kering dan kadar airnya turun.
“Memang ada sisi teologi, sisi mitologi, sisi sains, logika dalam penebangan pepohonan untuk bahan tapel. Dan rasanya ini sah-sah saja, itulah bagian dari kearifan lokal” sebutnya.
Ia menambahkan, dalam Lontar Siwagama juga sudah jelas disebutkan, mengapa ada kayu sakti, dan kayu timbul identik dengan Sang Kalika.
Ketika berbicara mitologi kayu yang dimanfaatkan untuk aktifitas ritual, maka lebih cenderung mengacu dalam Lontar Tantu Pagelaran
Dalam Lontar tersebut, rata-rata menceritakan lahirnya kayu. Dimana, Ida Bhatari saat ingin bertemu dengan Ida Bhatara Siwa saat beryoga.
Beliau menguji perjalanan Bhatari untuk mencari kebesaran Siwa. Apakah taat atau tidak Ida Bhatari Uma.
“Bhatari Uma digoda oleh raksasa yang kemudian dikutuk menjadi kayu nagasari. Ada pula jadi keladi, semua itu mitologi berkaitan dengan Dewi Uma atau Hyang Giri Putri. Kita tidak bisa memungkiri bahwa Bhatari adalah simbol Pertiwi,” jelas Ranuara.
Tak bisa disangkal jika Dewi Uma atau Dewi Durga dinobatkan penguasa celuluk, lenda-lendi, gamang, tonya, kalika dan lain-lain.
“Sehingga mitologinya dikutuk menjadi kayu. Yang kemudian baik untuk bahan tapel. Apalagi berkaitan dengan sesuhunan yang disungsung masing-masing pura yang sangat disakralkan dan membawa vibrasi positif,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika