Seperti diketahui, Tari Baris Keraras ini tarikan oleh seorang pemuda laki-laki, Tarian ini hanya ditarikan oleh satu orang dengan atribut yang berbeda dari Tari Baris pada umumnya.
Yakni menggunakan pakian poleh, awir Keraras dan membawa senjata berupa keris yang terbuat dari adonan sate, dan menggunakan hiasan daging babi sebagai gelungan, dan urutan babi sebagai kalung dan gelang kana.
Tokoh masyarakat Desa Adat Mengwi, I Nyoman Sukada menjelaskan, pementasan Tari Baris Keraras memiliki hubungan yang erat dengan Tradisi Tulak Punggul. Menurut penuturan dari para pendahulunya, Tradisi Tulak Punggul memiliki korelasi dengan Telaga Taman Ayun.
Konon, cerita itu bermula dari empehan atau bendungan yang terdapat di barat daya telaga taman ayun, sering mengalami roboh. Kondisi itu diyakini karena ada hal-hal tertentu yang menyebabkan bendungan tergerus oleh air.
Dengan tergerus bendungan menyebabkan efek domino, para petani tidak dapat mengairi sawah. Akibatnya, petani tidak bisa memanen padinya.
Atas kondisi itu, Raja Kelima dari Kerajaan Mengwi, I Gusti Agung Made Agung melakukan tapa yoga di Pura Pucak Mangu
“Disanalah beliau mendapatkan pawisik saat bertapa, agar empangan (bendungan) dibendung dengan upacara Tulak Tanggul atau Tulak Punggul yang bertujuan untuk menetralisir energi negatif,” jelasnya.
Dijelaskan pula bahwa empangan harus didasari oleh wong. Kata wong ini banyak mendapat penafsiran. Maka wong itu diartikan wong-wongan atau simbolis orang-orangan, yang diyakini mampu menjaga kekuatan bendungan.
“Apabila bendungan sudah kokoh, maka ada upacara setiap enam bulan sekali, yakni anggarakasih Medangsia, dilakukan upacara pecaruan yang berisi nasi wong-wongan dengan kelengkapan lainnya,” sebutnya.
Ia menambahkan, setelah caru nasi wong-wongan dengan kelengkapan lainnya, maka dilakukan suatu upacara tari-tarian sebagai lambang magis, yakni Baris Keraras. Baris Keraras ini tergolong tarian magis yang pakaiannya terbuat dari daun pisang kering.
Dalam pementasan Tari Baris Keraras memiliki pakem dan gerak tari yang unik dari pada Tari Baris secara umum dipentaskan di pura yaitu mulai dari gerak Tari dan penabuhnya. Iringan tabuh Tari Baris Keraras ini diiringi dengan gambelan vokal.
Para penari berpakaian Keraras (daun pisang kering) dengan gelungan daun pelapah pisang yang dihiasi rebasan, sate lilit, kalung urutan, senjata sate yang dibentuk seperti keris. Sarana inilah yang kemudian disebut dengan Tari Baris Keraras
Prosesi pementasan Tari Baris Keraras dalam upacara Aci Tulak Tunggul dimulai saat penari akan mempersiapkan diri terlebih dahulu, seperti menghias muka dan memasang atribut yang digunakan.
Sebelum dimulai akan diawali dengan matur piuning terlebih dahulu di uatama mandala (jeroan) Pura Taman Ayun dengan sarana upakara daksina pejati.
Tujuannya untuk memohon ijin kehadapan beliau bahwa Ida Pengelingsir Puri Ageng Mengwi akan melaksanakan upacara Aci Tulak Tunggul (mulang pakelem) di kolam pura Taman Ayun.
Upacara matur piuning yang dilakukan oleh pemangku dan beberapa krama subak, dan juga ikut serta seorang penari baris Keraras yang akan pentas dalam pelaksanaan upacara Aci Tulak Tunggul di pelinggih empelan, dan didampingi oleh Pengelingsir Puri Ageng Mengwi.
“Pada saat matur piuning, pemangku juga nunas tirta (kekuluh luhur) kemudian dibawa ke jaba di pelinggih empelan dimana upacara Aci Tulak Tunggul dilaksanakan. Acara matur piuning yang dilakukan di jeroan pura Taman Ayun,” paparnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika