Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Sejarah Aci Tulak Punggul: Sering Terjadi Peristiwa Aneh, Dari Orang Tenggelam hingga Gagal Panen

I Putu Mardika • Minggu, 24 Maret 2024 | 01:09 WIB

Tari Baris Keraras yang dipentaskan saat Aci Tulak Tunggul di Pura Taman Ayun pada Anggarkasih Medangsia
Tari Baris Keraras yang dipentaskan saat Aci Tulak Tunggul di Pura Taman Ayun pada Anggarkasih Medangsia
JEMBRANA EXPRESS-Tradisi Aci Tulak Punggul di Desa Adat Mengwi Kecamatan Mengwi, Badung memiliki sejarah tergolong unik. Ada sejumlah peristiwa yang acapkali terjadi dan tidak masuk secara logika.

Peristiwa aneh yang tidak masuk akal sperti ada orang tenggelam di kolam Pura Taman Ayun dan begitu pula persawah yang berada di subak Bukti Batan Badung pengairannya tidak bagus dan selalu gagal panen karena terserang seperti tikus, walang sangit, dan wereng.

Tokoh masyarakat Desa Adat Mengwi, Nyoman Sukada menjelaskan, gerakan tarian Baris Keraras juga sangat sederhana. Dimulai dari Pepeson, yaitu geraknya adalah gerakan Nayog sebanyak sepuluh kali.

Pengadeng atau pengawak, yaitu geraknya adalah angkat kaki kanan, angkat kaki kiri, nanjek dan seledet.

Gerakan ini dilakukan sebanyak lima kali yaitu arah timur, selatan, barat, utara, dan terakhir di tengah gerakan ini disebut dengan gerakan ngider bhuana.

Sedangkan gerakan penutup atau pekaad yaitu gerakan adalah Nayog yang dilakukan sebanyak enam kali.

Setiap busana yang digunakan juga sarat akan makna. Gelungan Tari Baris Keraras yang terbuat dari pelapah pisang dan hiasannya dipergunakan dari dagang babi dan kulit babi.

Dengan berbagai bentuk senjata ngider bhuana merupakan lambang bunga dan buah hasil dari kesuburan tanah pertanian.

Hiasan muka dipergunakan Kapur Sirih (Pamor) melambangkan keseimbangan alam semesta. Kalung dan gelang kana terbuat dari Urutan Babi merupakan lambang ular.

Di mana ular ini diyakini sebagai binatang penghusir hama di sawah seperti contohnya tikus, agar padi dapat tumbuh dengan baik tidak dimakan oleh tikus.

Keris yang terbuat dari adonan sate merupakan lambang dari unsur purusha atau laki-laki, karena diyakini bahwa laki-lakilah yang menjadi tulang punggung keluarga dan dapat memberikan kehidupan yang sejahtera bagi semua anggota keluarga.

Daun Pisang Kering (Keraras) merupakan lambang hutan, yang bermakna bahwa kehidupan petani tidak bisa terlepas dari hutan, karena hutan merupakan sumber mata air yang akan mengairi sawah-sawah petani, dan akan nantinya memberikan kesuburan pada lahan pertanian.

Seperti contohnya air dari Puncak Mangu yang mengairi persawahan di Subak Bukti Batan Badung.

“Kain Poleng Kain Poleng memiliki arti penting dan sakral dalam kehidupan masyarakat di Bali memiliki maknai Rwa Bhineda. Konsep ini melambangkan keseimbangan alam seperti adanya atas dan bawah, kanan dan kiri,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#aci tulak punggul #mengwi #pura taman ayun #badung