Penekun Lontar dari Geria Tampaksiring, Ida Bagus Made Bhaskara menjelaskan, adapun solusi yang tepat saat bermpimpi buruk adalah mengucapkan saa “Meme Bapa Empuang Tiang”
Saa itu diucapkan Ketika mimpi yang tidak biasa, maka ada sejumlah tips yang bisa dilakukan, mulai dari mencatat, mengucapkan mantram, hingga melukat.
Ida Bagus Made Bhaskara mengatakan, jika mengalami mimpi buruk, maka keesokan harinya kita bisa mencatat apa yang sudah diimpikan.
Lalu lihat selama tiga hari kedepan, karena batas waktu mimpi terjadi atau tidak itu adalah selama tiga hari atau maksimal awuku atau satu minggu
Ia menambahkan ketika kita mencatat, maka bisa dilihat apa yang terjadi dalam seminggu kedepan.
Ketika bermimpi memungut uang, maka apakah ada keluarga yang sakit? Jadi bisa kita kaitkan apa yang terjadi di masa depan lewat mimpi.
“Misalnya mimpi makan daging ayam mentah, maka kita catat, apa maknanya, sehingga bisa menjadi tetenger yang disampaikan oleh leluhur, dan bisa kita mengantisipasinya, dan disesuaikan dengan mimpinya. Itu sangat efektif untuk mencatatnya,” sebutnya.
Selain mencatat, jika mengalami mimpi buruk di jam tertentu yakni di atas pukul 00,00 sampai pukul 04.00 maka ketika bangun sehabis mimpi, disarankan untuk jangan tidur dulu.
Sebaiknya saat terbangun, bantalnya dibalik dan mengucapkan mantram.
“Meme Bapa Empuang Tiang, setelah itu baru bantal dibalik. Ini sebagai doa kepada ayah dan ibu yang tidak lain adalah manifestasi Siwa-Uma untuk menjaga kita. Biasanya mimpi itu sirna. Dan efek buruk juga akan hilang,” kata Ida Bagus Bhaskara.
Selanjutnya, jika terbangun dalam kondisi sudah pagi hari, maka tahap selanjutnya adalah harus natab angkihan, kemudian mengecek di lubang hidung mana nafas yang lebih deras.
Jari ditaruh di depan hidung dan nafas dihembuskan. Apakah lebih deras di kanan atau di kiri. Jika yang di kanan lebih deras, maka turunkan kaki kanan. Begitu juga sebaliknya.
Selain itu, ada sarana yang digunakan untuk mengantisipasi efek negatif dari mimpi buruk. Penglukatan ipian ala itu ada dua, yakni diambil langsung di beji tertentu seperti Tirta Empul tanpa mantra untuk menetralisir sebelum tiga hari.
Ada juga dilakukan di tempat secara mandiri di Pelinggih Surya atau Kemulan. Namun bisa juga di pelangkiran bila kondisinya sedang kos.
“Ini menggunakan sarana air putih dan dimasukkan bunga putih. Kemudian dilinggihkan di aktifitas pemujaan. Bisa dilakukan setelah malam sebelumnya bermimpi. Nah air inilah yang ditunas dan memohon kepada Dewa Indra,” sebutnya.
Ia menyebutkan, ada juga cara yang sederhana, boleh dengan memotong ujung rambut dan ujung kuku lalu dibuang di jalan.
Ini nyasa untuk membuang sial.” Hari itu juga bisa dilakukan. Ini akan memberi jeda agar pikiran tidak panik,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika