Menurut pengempon Pura Paluang, Jro Mangku Gurun Muli, Tari Demang Temenggung adalah tarian sakral yang hanya ditarikan pada saat upacara piodalan/pujawali pada Tumpek Krulut di Pura Paluang.
Tari ini terbilang sakral karena merupakan bagian dari ritual dan hanya boleh ditarikan oleh masyarakat Karang Dawa di Nusa Penida.
Saat dipentaskan bahkan melibatkan hal-hal yang bersifat gaib, seperti adanya masyarakat yang kerauhan sepintas terlihat seperti mengamuk.
Dalam pementasannya, terdapat masyarakat yang kerauhan dan kesurupan yang timbul dari usaha untuk mempertemukan energi positif, namun energi negatif masih dapat masuk kedalamnya.
Adanya energi negatif dalam pementasan tersebut dipengaruhi dari letak dilakukanya sebuah ritual tersebut, karena pementasan tersebut dilakukan di madya mandala atau tempat yang belum dianggap sempurna kesuciannya sehingga energi negatif masih dapat masuk kedalamnya.
“Adanya pertemuan antara energi positif dan negatif didalam pementasan Tari Demang Temenggung tersebut dianggap mepalu oleh masyarakat Karang Dawa, sehingga pertemuan energi positif dan negatif tersebut disebut sebagai Paluang,” jelasnya Mangku Gurun Muli.
Ia menjelaskan, Tari Demang Temenggung memiliki Sejarah Panjang. Tarian itu tercipta karena adanya pawisik (pesan gaib) untuk menarikan Tari Demang Temenggung ini.
Demang Temenggung berasal dari bahasa Kawi, Demang berarti sebuah kata yang menunjukkan kata gelar (Ratu Gede Sakti Hyang Mami) dan Temenggung berarti senang/kesenangan, yang dimana arti dari kata Demang Temenggung ini adalah sebuah tarian yang disenangi oleh Ida Ratu Gede Sakti Hyang Mami yang melinggih di Pura Paluang.
“Konon, Tari Demang Temenggung sudah ada sejak tahun 1980-an. Terciptanya tarian ini karena Ratu Gede Sakti Hyang Mami menyukai sebuah tari-tarian yaitu Tari Demang Temenggung ini,” imbuhnya.
Diyakini pula bahwa Ida Bhatara (Ratu Gede Sakti Hyang Mami) yang berstana di Pura Paluang tersebut senang terhadap sebuah tarian yaitu Tari Demang Temenggung.
Maka dari itu Tari Demang Temenggung ini selalu ditarikan saat dilakukan pujawali atau piodalan di Pura Paluang dan merupakan bagian dari rangkaian ritual upacara keagamaan di Pura Paluang.
Pementasan Tari Demang Temenggung di Pura Paluang sebagai sarana untuk nedunan (menghadirkan) Ida Bhatara Ratu Gede Sakti Hyang Mami yang berstana di Pura Paluang), Ratu Gede Ngurah Paluang, Ratu Gede Papak Badeng, dan Ratu Nyoman Sakti.
Selain itu, tarian ini juga difungsikan untuk nuhur (memanggil) tiga nama yang diantaranya Kasa, Segara dan Svarga.
Tari Demang Temenggung ini juga berfungsi sebagai sebuah seni tari yang disukai atau disenangi oleh Ida Ratu Gede yang melinggih di Pura Paluang, yaitu Ratu Gede Sakti Hyang Mami.
Di samping itu, pementasan Tari Demang Temenggung ini juga diyakini sebagai tarian atau kesenian untuk memperkenalkan sebuah cerita sejarah dari Pura Paluang melalui lakon yang disampaikannya.
Selain itu dapat juga menarik perhatian dari para masyarakat atau umat yang tangkil (datang) ke Pura Paluang agar senantiasa selalu datang pada saat piodalan di Pura Paluang yang jatuh pada Tumpek Krulut.
“Tari Demang Temenggung ini adalah salah satu dedemenan (kesukaan) dari Ratu Gede Sakti Hyang Mami, karena dikatakan bahwa Ratu Gede Sakti Hyang Mami menyukai sebuah tetarian yang berupa Tari Demang Temenggung ini, maka dari itu Tari Demang Temenggung ini tidak bisa palas (lepas) dari rangkaian upacara dari Piodalan Pura Paluang,” ungkapnya.
Bahkan, tarian ini juga merupakan sarana untuk menyomia bhutakala agar tidak mengganggu pelaksanaan yadnya dan nyomya bhutakala.
Bahkan, dapat membantu pelaksanaan Upacara Yadnya (bhuta kasupat menjadi dewa).
Tarian ini sebagai simbolis turunnya leluhur, roh, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui manifestasinya Ida Ratu Gede Ngurah Paluang dan Ratu Gede Sakti Hyang Mami.
Berdasarkan tujuannya Tari Demang Temenggung ini nedunan (menghadirkan) Ida Bhatara melalui perantara penari yang Kerauhan adalah untuk memasukan kekuatan gaib atau magis dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan manifestasinya.
Penari maupun pemedek yang kerauhan diharapkan dapat memberikan arahan mengenai pelaksanaan upacara Yadnya yang akan dilaksanakan. Pawisik berkaitan dengan kurang lebihnya pelaksanaan Upacara Yadnya yang akan dilaksanakan di Pura Paluang.
“Pada saat Tari Demang Temenggung ini ditarikan atau dipentaskan banyak dari pemedek pura yang kerauhan. Dalam hal ini, kerauhan bukan berarti kesurupan, ada perbedaan persepsi dalam mengartikannya,” paparnya.
Kerauhan yang selalu terjadi pada setiap upacara khususnya Upacara Dewa Yadnya yang ada di Pura Paluang ditafsirkan sebagai unsur yang mengesahkan proses pelaksanaan ritual.
Orang yang Kerauhan mengatur ritual mana yang didahulukan dan ritual mana yang dapat dilakukan kemudian.
Ketika orang Kerauhan sedang mengatur prosesi ritual itu, tak seorang pun berani membantahnya, karena diyakini bahwa roh yang ada pada orang Kerauhan itu adalah roh Ratu Gede Ngurah Paluang dan Ratu Gede Sakti Hyang Mami.
“Datangnya kekuatan roh Ratu Gede Ngurah Paluang dan Ratu Gede Sakti Hyang Mami yang memasuki tubuh manusia tidak dilakukan dengan sembarangan, tetapi dimulai dari sebuah proses yang dapat menghubungkan diri menuju Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” imbuhnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika