Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Pura Langgar Desa Bunutin Bangli Simbol Akulturasi Hindu-Islam sejak Dahulu, Pantang Haturkan Daging Babi

I Putu Mardika • Rabu, 10 April 2024 | 18:41 WIB

 

Pura Langgar Desa Bunutin, Kecamatan/Kabupaten Bangli sebagai simbol akulturasi Hindu-Islam di Bali yang menunjukkan moderasi beragama
Pura Langgar Desa Bunutin, Kecamatan/Kabupaten Bangli sebagai simbol akulturasi Hindu-Islam di Bali yang menunjukkan moderasi beragama
JEMBRANA EXPRESS-Desa Adat Bunutin, Kecamatan/Kabupaten Bangli memiliki pura yang unik sebagai simbol moderasi beragama. Krama Bunutin menyebut Pura Penataran Agung Dalem Jawa atau Pura Langgar. Pura ini juga pantang mempersembahkan daging babi, namun diganti dengan daging ayam dan itik.

Langgar atau musala merupakan tempat ibadah bagi umat muslim. Tetapi, Langgar yang ada di Desa Adat Bunutin, justru berada di dalam areal pura.

Hal inilah yang membuat jika sarana upacara yang dipersembahkan tidak diperkenankan menghaturkan daging babi.

Pengempon Pura Penataran Agung Dalem Jawa, Ida Dewa Gede Oka Nurjaya, 64 mengatakan Pura Dalem Jawa ini sebenarnya bukanlah tempat ibadah Umat Muslim, melainkan tempat ibadah umat Hindu.

Karena adanya kata Langgar yang membuat umat Muslim menjadi ingin berdoa di tempat ini, padahal bangunan tersebut hanyalah sebuah gedong penyimpan.

Karena banyaknya umat muslim yang datang ke Pura untuk bersembahyang, para pengempon Pura menyediakan tempat persembahyangan bagi umat muslim yaitu di Bale pengraosan, serta di natah Pura, dan tidak di perbolehkan memasuki Gedong suci.

Gedong suci atau yang sering disebut bangunan Langgar sama seperti pada bangunan Mekah di Arabsaudi, orang yang berdoa hanya boleh di sekeliling bangunan, yang boleh memasuki Langgar atau Gedong tersebut hanya Pemangku atau Orang suci saja.

Dikatakannya, Pura Langgar ini pantang mempersembahkan daging babi. Namun sarana tersebut dapat diganti dengan daging ayam maupun itik.

Bahkan, sampai kini krama yang nangkil tidak ada yang berani membawa daging babi ke Pura Langgar.

Pura Langgar tidak hanya menjadi tempat pemujaan bagi umat Hindu di wilayah setempat. Namun banyak juga umat Islam yang datang kesini untuk berziarah dan melihat secara langsung keunikan pura ini.

Menurut cerita, Pura Langgar berdiri karena adanya keterkaitan sejarah antara Kerajaan Bunutin dengan Kerajaan Blambangan di Banyuwangi, Jawa Timur.

Kala itu, Raja Bunutin Ida I Dewa Mas Blambangan masih merupakan keturunan Raja Blambangan yang jatuh sakit setelah dinobatkan menjadi raja.

Beliau menderita sakit yang tak kunjung sembuh selama lima tahun, melihat hal ini adik sang raja berinisiatif melakukan “dewasraya” di Merajan Agung yaitu melakukan yoga semadhi melalui seorang perantara (balian).

Kata-kata yang diucapkan oleh Jero Balyan tersebut diyakini sebagai sabda pawisik (bisikan gaib) dari arwah leluhur mereka di tanah Blambangan yang menganut agana Islam.

Berdasarkan sabda pawisik tersebut kemudian oleh I Dewa Mas Bunutin dibangunlah sebuah Langgar di tengah-tengah areal pamerajan puri.

Tidak lama berselang, keajaiban pun terjadi, yakni penyakit yang diderita I Dewa Mas Blambangan berangsur-angsur sembuh dan akhirnya kembali sehat-walafiat. Keberadaan langgar inilah yang menyebabkan Pamerajan Agung Bunutin kemudian dikenal dengan nama Pura Langgar atau Pura Dalem Jawa.

Sejak itulah, keberadaan bangunan langgar ini dipelihara dan dirawat sampai sekarang oleh keturunan keluarga puri dan masyarakat Desa Bunutin.

Pada Bangunan Langgar berbentuk segi empat. Ada dua undakan dan empat pintu di bangunan yang dikenas sebagai Bale Agung.

Atapnya bertingkat dua. Dua tingkat atap dan undakan ini melambangkan syariat dan tarekat dalam Islam.

Namun dalam Bale Agung ini ditempatkan Pelinggih Pendeta Sakti Wawu Rauh. Sementara sisi utara Pura Langgar ini dikenal dengan bangunan kaler (kaja) yang berfungsi sama dengan Bale Agung.

Sisi timur pada pura ini ada bangunan Pura Pajenengan. Bangunan suci ini diyakini menjadi tempat leluhur yang sudah diupacarai secara Hindu. Upacara khusus di bangunan ini dilakukan saat tiba Pagerwesi.

Menariknya tiga bangunan tempat suci di Pura Langgar ini dipercaya memiliki kedekatan sejarah dengan leluhur pengempon Pura Langgar dari Blambangan yang beragama Islam.

Jika ada upacara biasanya sesajen di tiga bangunan suci ini tidak memakai daging babi karena diharamkan oleh umat Islam.

Karena itu diganti dengan daging ayam maupun itik.

Sesajen yang menggunakan daging babi hanya boleh dipersembahkan pada bangunan suci yang berada di sisi selatan Pura langgar.

Bangunan suci ini disebut Pura Dalem yang fungsinya sama dengan Pura Pajenengan di sisi timurnya.

Pada area jeroan yang biasa digunakan untuk bersembahyang umat Hindu, juga digunakan sembahyang untuk umat Muslim, tetapi untuk peribadahan kedua agama ini tidak pernah berbarengan.

Untuk kedua umat tidak diperbolehkan memasuki bangunan Langgar/gedong suci tersebut, hanya orang suci atau pemangku Pura dan penglingsir Puri Bunutin saja yang bole masuk, itupun jika ada upacara. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Desa Adat Bunutin #hindu #blambangan #islam #bangli #Moderasi #Pura Langgar #Raja Bunutin Ida I Dewa Mas Blambangan #akulturasi