Kelian Adat Sembiran, Nengah Arijaya menyebutkan, ritual yang harus dilaksanakan adalah Masekenang dilaksanakan kira-kira satu bulan sebelum hari pernikahan (hari H).
Masekenang merupakan adat perkenalan antara orang tua calon pengantin laki-laki dengan orang tua calon pengantin wanita.
Orang tua calon pengantin lelaki datang ke rumah calon pengantin wanita, selain berkenalan juga untuk menentukan hari pelaksanaan pernikahan.
Kemudian dilanjutkan dengan lamaran resmi, biasanya H-3. Orang tua calon pengantin laki-laki melamar calon pengantin wanita.
Dalam lamaran itu, pihak calon pengantin laki-laki mengajak beberapa orang, di antaranya ketua banjar, aparat desa, dan para juru (perbekel, jero mangku, jero adat).
Selanjutnya prosesi Undang-undangan, dilaksanakan pada H-1. Pada saat undang-undangan pihak calon pengantin perempuan memberitahu para tetangga dan kerabat bahwa akan dilaksanakan upacara perkawinan.
Dalam undang-undangan, biasanya juga dilaksanakan acara calon pengantin laki-laki memberi air satu teken (satu pikul), yang merupakan simbol anak mantu untuk meredam kemarahan mertua karena anak gadisnya akan dipersuntingnya.
Pelaksanaan upacara pernikahan. Pada pernikahan ini selalu menyembelih babi. Ada peragat Nik, yaitu temanten keliling desa dengan maksud laporan kepada para Bhatara.
Selain itu, ada peragat Gedhe, yaitu pihak pengantin laki-laki membawa lawar, sirih, banten tegeh, tipat bantal dan diserahkan kepada pihak pengantin perempuan.
Juga memakai sarana banten mamintal, yaitu acara mohon pamit kepada leluhur dan kedua orang tua.
Setelah upacara pernikahan diadakan upacara bayar pangarebuan, yaitu upacara di Pura Puseh dengan tujuan untuk membersihkan jiwa-jiwa atau lethek-lethek.
“Upacara bayar pangarebuan ini diselenggarakan pada hari tilem atau bulan mati. Syarat harus menyajikan masakan ayam putih” imbuhnya.
Prosesi selanjutnya adalah Metebus Tukat Ngambung (tukat berarti Tali) upacara ini dilakukan dengan membersihkan pura yang diadakan di Pure Peken, pura Dalem.
Melis di rumah, yaitu melukat atau pembersihan. Menghindari hari tali wangke.
“Banten dalam upacara melis seperti Banten ayam 5 ekor manca warna (hitam, putih, merah, kuning, campuran/ brumbun). Tidak boleh menggunakan ayam sangkur/ayam yang tidak punya ekor, karena ayam tidak berekor itu diangap kurang sempurna,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika