Struktur kepemimpinan dibangun oleh enam pasang tingkatan tingkatan kepemimpinan, yang diatur dalam dua baris bersap berdasarkan senioritas pengalaman mengikuti upacara. Yakni barisan kepemimpinan sisi kanan, dan barisan kepemimpinan sisi kiri.
Sisi Kanan dan kiri kepemimpinan ini dimaksudkan adalah letak rumah para pemimpin tersebut.
Kalau diurai kepemimpinan sistem Hulu apad Desa Pengelipuran dapat dipaparkan bahwa yang pertama, Jero Kubayan, bertugas, dan bertanggungjawab sebagai pemimpin segala upacara yang menjadi tradisi di Desa Pengelipuran.
Kelian Adat Penglipuran, I Wayan Budiarta menambahkan,peran kubayan layaknya peran Pemangku dan Pedanda dalam sistem masyarakat di Bali dataran.
Kedua, di bawah posisi Jero Kubayan ada disebut Jero Kebawu, beliau ini memiliki tugas yang sama dengan Jero Kubayan, yaitu menghaturkan persembahyangan.
Namun sifatnya sebagai pengganti, apabila Jero Kubayan berhalangan adat tertentu.
“Dalam melaksanakan tugas melaksanakan jalannya upacara, jero Kubayan dibantu oleh seorang asisten yang disebut Jero Singgukan. Dalam system masyarakat ulu apad di Desa Pengelipuran Bangli, ketiga jero ini disebut Juru Sih Nem, yang artinya Ke-6 juru,” sebutnya.
Selain Jero Sih Nem di atas, masih ada tiga juru di bawah Jero Sih Nem, yakni ada disebut Jero Penyarikan, Juru Pemalungan,dan jero Penguan.
Jero Penyarikan bertugas mengurus ternak-ternak peliharaan, yang akan dijadikan sarana upacara, Juru Pemalungan bertugas sebagai juru balungan, untuk kepentingan upacara.
Selain jero penyarikan dan jero pemalungan ada disebut Jero Penguan, beliau ini bertugas mengukur dan mengatur beras yang dibutuhkan sampai ada nasi yang dibutuhkan untuk kepentingan upacara di suatu Pura, di lingkungan masyarakat Pengelipuran.
Kenyataan pelaksanaan upacara dan upakara adat di desa Pengelipuran berjalan sesuai tradisi.
“Tidak ditemukan perebutan posisi kepemimpinan. Sistem kepemimpinan uluapad bisa dikatakan mengajarkan spirit kesadaran antre,” singkatnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika