Sesangi itu baik untuk dipentaskan saat upacara manusa yadnya. Seperti acara pawiwahan, tiga bulanan, hingga acara seremonial lainnya.
Kelian Sekeha Joged Tunjung Mekar, yang terletak di Dusun Dalem, Desa Sinabun, Wayan Netra mengatakan, paling sering orang yang ngupah joged acara manusa yadnya. Rata-rata karena mesesangi dan apabila kaulnya terpenuhi, maka mereka ngupah joged.
Misalnya doa agar memiliki anak tercapai maupun sukses dalam karir politik hingga usaha.
Tidak jarang juga, dirinya bersama sekeha pentas di Pesta Kesenian Bali sebagai perwakilan dari Kabupaten Buleleng.
Menurutnya, Joged Buleleng memiliki karakteristik tarian yang membedakan dengan joged lainnya di Bali, sehingga tetap mendapat prioritas untuk pentas.
Sebelum pentas, biasanya diberikan pembinaan secara berkala, dari sisi penarinya, penabuhnya agar tetap mematuhi pakem.
Sehingga tidak terkesan pornoaksi dan pornografi dalam pementasannya.
“Biasanya kerjasama dengan Dinas Kebudayaan Buleleng untuk tampil di PKB. Kami diberikan pembinaan selama berbulan bulan sebelum tampil sesuai dengan pakem joged yang benar dan tidak porno,” sebutnya.
Disinggung terkait joged ngebor, Netra selaku kelian sekeha mengaku pernah menerima tawaran dari pengupah.
Hanya saja, dirinya tidak mau, mengingat penampilan Joged Ngebor yang dinilai mengarah ke pornoaksi bisa berdampak hokum.
“Sering saya nasehati para pengupah, agar jangan mesan joged yang aneh-aneh (joged ngebor, Red) karena sekarang sudah tidak jamannya lagi. Kami ingin tampil normal normal saja, sesuai dengan pakem,” ungkapnya.
Menariknya, agar rejeki tetap lancar dan pengupah joged di sekehanya ramai, ia kerap melakukan upacara ngerasakin di pelang nama yang dipasangnya.
Ritual ini dilakukan secara incidental dan hari hari tertentu.
“Upacara Ngerasakin ini dengan sarana babi guling dan banten lainnya sebagai bentuk keyakinan, dengan harapan agar yang ngupah makin ramai, rejeki lancar. Ini juga sebagai wujud syukur kami” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika