Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Pura Dalem Betawi: Pujawali Tiga Kali Setahun, Ada Tempat Nunas Tamba

I Putu Mardika • Jumat, 26 April 2024 | 22:47 WIB

Pura Dalem Betawi, Desa Mengwitani, Kecamatan Mengwi, Badung sebagai simbol akulturasi berkonsep Siwa-Buddha (ist)
Pura Dalem Betawi, Desa Mengwitani, Kecamatan Mengwi, Badung sebagai simbol akulturasi berkonsep Siwa-Buddha (ist)
JEMBRANA EXPRESS-Pura Dalem Betawi di Banjar Jumpayah, Desa Mengwitani, Badung, Bali, tidak hanya menarik karena konsep Siwa-Buddhanya, tetapi juga karena tradisi Tionghoa yang kental pada Piodalan Imlek.

Masyarakat meyakini bahwa Pura Dalem Betawi memiliki kesaktian untuk memberikan keturunan dan kesembuhan.

Pemangku Pura Dalem Betawi, Jero Mangku Karda  menjelaskan banyak yang datang nangkil ke Pura Dalem Betawi untuk nunas tamba (memohon kesembuhan) dengan bersembahyang di Palinggih Gedong Buddha Dewi Kwan Im.

Pemangku pura akan menambahkan banten pejati dengan kepasilan kelor dan jatu (daun jepun/kamboja) yang dipercaya berkhasiat untuk pengobatan.

Piodalan di Pura Dalem Betawi berlangsung tiga kali setahun. Piodalan Purusha dilaksanakan Setiap enam bulan sekali pada Buda Kliwon Matal, merupakan puncak pujawali di pura.

Piodalan Predana Bertepatan dengan purnama sasih kadasa.

Hal ini ditandai dengan ida bhatara bhatari tedun napak pertiwi dan pementasan calonarang.

Piodalan ImlekBertepatan dengan Hari Raya Imlek, dipusatkan pada Palinggih Gedong Buddha Dewi Kwan Im.

Selain itu, Piodalan Imlek di Pura Dalem Betawi sangat meriah.

Pura dihiasi dengan lampion merah dan ornamen khas Tionghoa lainnya. Warga Tionghoa dari seluruh Bali datang untuk bersembahyang.

Sarana Upakara utama piodalan Imlek adalah banten, namun dihaturkan pula persembahan khas Hari Raya Imlek seperti kue keranjang, jeruk mandarin, apel fuji, dan makanan lainnya yang didominasi warna merah.

Warga Tionghoa menggunakan dupa berwarna merah dengan jumlah minimal 21 dupa, dan bisa lebih dengan jumlah ganjil yang memiliki makna keseimbangan, kemakmuran, kelimpahan anugerah, dan murah rejeki.

Piodalan Imlek dipimpin oleh Jero Mangku sesuai ajaran agama Hindu, namun persembahyangan diikuti pula oleh warga Tionghoa.

Toleransi beragama terlihat nyata dalam pelaksanaan piodalan Imlek, persembahyangan berjalan lancar dan harmonis tanpa memandang perbedaan budaya.

Pura Dalem Betawi menjadi bukti nyata akulturasi budaya Hindu dan Buddha di Bali.

Tradisi Tionghoa yang kental pada Piodalan Imlek menunjukkan toleransi beragama yang tinggi di masyarakat.

Pura ini menjadi destinasi wisata budaya yang kaya dan menarik untuk dikunjungi.

 

Editor : I Putu Mardika
#keturunan #Pura Dalem Betawi #nunas tamba #imlek #pujawali #bali #badung #tionghoa