Pada tradisi ini, masyarakat berkumpul di Pura Bale Agung desa setempat untuk melakukan ritual persembahyangan dan saling pukul menggunakan pelepah pisang.
Jero Wayan Artana, Ketua Baga Parhyangan Desa Adat Bugbug, menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan warisan turun-temurun yang dilakukan sebagai bentuk rasa bhakti kepada Ida Bhatara Gde Praja Petak atau Ida Bhatara Gde Bandem.
Sesajen yang dihaturkan pun tidak menggunakan daging, melainkan hasil bumi seperti ubi, kacang, dan kelapa yang diparut menjadi telengis.
Menyingkirkan Penyakit dengan Pelepah Pisang
Salah satu momen menarik dalam Aci Tatebahan adalah aksi saling pukul menggunakan pelepah pisang. Tradisi ini dipercaya dapat menghilangkan penyakit yang tumbuh di dalam diri.
Sebelum aksi ini dilakukan, masyarakat terlebih dahulu melakukan persembahyangan di Pura Bale Agung dan ngelungsur wangsuhpada (Tirta Suci) untuk membersihkan diri.
Kemudian, para krama lanang (laki-laki) membuka baju mereka dan mengambil pelepah pisang yang telah disediakan.
Aksi saling pukul ini tidak hanya dilakukan oleh pemuda, tetapi juga krama yang sudah berkeluarga.
"Hasil pukulan papah itu membuat penyakit menjadi gesar," ujar Jero Artana.
Filosofi di Balik Tradisi
Tradisi Aci Tatebahan bukan sekadar ritual, tetapi memiliki filosofi yang mendalam.
Tradisi ini mengingatkan masyarakat untuk bersyukur atas hasil panen yang melimpah dan menjaga kesehatan diri.
"Pada saat tubuh kita sudah sehat, kita bisa lagi melaksanakan aktivitas seperti biasa, untuk bisa menghasilkan hasil bumi yang baik," jelas Jero Artana.