Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Kisah Mistis di Pura Kembra Madura Sanur: Pengempon pantang Makan Daging Babi, Ikan Kerapu hingga Barakuda

Dian Suryantini • Sabtu, 27 April 2024 | 17:31 WIB

Pura Kembar Madura Sanur
Pura Kembar Madura Sanur
SINGARAJA, JEMBRANA EXPRESS- Pura Kembar Madura di Desa Pakraman Intaran, Sanur, menyimpan keunikan yang menarik untuk ditelusuri.

Salah satu keunikannya adalah pantangan bagi panyungsung pura untuk mengonsumsi daging babi, ikan barakuda, dan ikan kerapu.

Pantangan ini didasarkan pada bhisama suci dan dipercaya membawa konsekuensi bagi yang melanggarnya, seperti mual, gatal-gatal, dan kejadian aneh lainnya.

Pantangan ini juga berlaku bagi masyarakat di radius pura.

Alasan di balik pantangan ini berkaitan dengan legenda Raja Bali Dalem Ketut Ngulesir dan Arya Kuda Pinolih dari Madura.

Saat Dalem Ketut Ngulesir kehilangan kerisnya di Pantai Canggu, Arya Kuda Pinolih dan pengiringnya, dibantu oleh dua ekor ikan barakuda dan kerapu, berhasil menemukan keris tersebut.

Sebagai wujud penghormatan, panyungsung pura pantang mengonsumsi kedua jenis ikan tersebut.

Dijelaskan bahwa pernah terjadi musibah saat salah satu warga luar menjual sate babi saat piodalan di pura Kembar Madura.

 

Baca Juga: Pura Goa Tirta Sunia, Ada Tirta tak Terlihat, Menetes Sewaktu-waktu

Anaknya berulang kali tertimpa musibah. Namun ia tetap tidak percaya.

Hal itu terulang hingga empat kali dan akhirnya memutuskan untuk berhenti.

“Pernah ada warga dari luar dia jualan babi. Sudah dipringatkan tapi tetap kukuh. Akhirnya anaknnya tertimpa musibah. Sekiranya ada 4 kali anaknya nyungkling (jatuh). Akhirnya nunas pangampura disini dan berhenti jualan sate babi. Sekarang berjualan sate ikan laut,” ungkapnya.

Alasan lainnya untuk pantangan tidak mengkonsumsi ikan barakuda dan kerapu, sebab pada saat Raja Bali, yakni Dalem Ketut Ngulesir (Dalem Ketut Semara Kepakisan) kembali pulang ke Bali dari menghadiri pertemuan dengan raja Arya Kuda Pinolih (Arya Madura) tiba-tiba keris Dalem terjatuh di Pantai Canggu.

Arya Kuda Pinolih (Arya Madura) yang terkenal budi luhurnya pun membantu mencari keris tersebut dibantu oleh pengiringnya.

Selain itu penelurusan itu juga dibantu oleh 2 ekor ikan, yakni Barakuda dan Kerapu yang diutua oleh Dewa Baruna. Setelah melakukan penelusuran, akhirnya keris tersebut ditemukan.

“Atas dasar itu, sebagai wujud penghormatan, kami tidak mengkonsumsi ikan kucul (barakuda) dan kokak (kerapu),” imbuhnya. 

Keunikan lain dari Pura Kembar Madura adalah arca pendeta yang tidak dapat didokumentasikan dengan kamera. Konon, arca ini "pingit" dan tidak berkenan untuk dikomersilkan.

Pura ini juga memiliki sensasi berada di pinggir pantai, dengan lantai yang terbuat dari pasir pantai dan palinggih yang terbuat dari batu karang putih.

Beberapa palinggih di pura ini antara lain Gedong Betel, Parahyangan Kembar, Gedong Sang Hyang Shri Bhagawan, Ngurah Alit, dan Ida Ratu Manik Subandar.

Pura Kembar Madura disungsung oleh 39 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di berbagai daerah di Bali. Piodalan pura dilaksanakan setiap Budha Umanis Tambir.

Nama Pura Kembar Madura berasal dari dua hal: pertama, berkaitan dengan Ida Bhatara di Gunung Kembar, Karangasem (Lempuyang), tempat di mana pura ini selalu nunas tirtha; kedua, terdapat arca kembar di depan palinggih Gedong Betel.

Dahulu, sebelum berdirinya pura, tempat ini merupakan tempat pertapaan. Pada tahun 1500 M, dibangunlah Pura Dalem Madura (sekarang Pura Kembar Madura).

Pamedek yang memiliki keluhan penyakit dapat disembuhkan dengan menggunakan air dari kelapa gading (tirta nyuh gading). Namun, sejak 2 generasi, pengobatan tidak dilakukan lagi karena tidak ada penerus. (dhi)

Editor : I Putu Mardika
#Pura Kembar Madura #Pantangan #kerapu #barakuda #pura #pingit #babi