Simbol ini juga lazim ditemukan di kendaraan roda empat, seperti mobil pribadi maupun kendaraan umum, dengan keyakinan memberikan perlindungan bagi pengemudi dan penumpang selama di perjalanan.
Daksina Linggih umumnya ditempatkan di dashboard mobil. Simbol ini juga sering ditemukan di bus dan angkot, terpasang di bagian depan.
Namun, perlukah Daksina Linggih di mobil? Jawabannya tergantung pada keyakinan dan persepsi masing-masing individu.
Meskipun sekilas terlihat sama, Daksina Linggih berbeda dengan daksina pada umumnya. Daksina dalam bentuk persembahan dapat difungsikan sebagai linggah atau simbol Tuhan.
Sedangkan Daksina Linggih tidak berfungsi sebagai persembahan, melainkan simbol Tuhan dan hulu dari Banten.
Bagi umat Hindu yang meyakininya, Daksina Linggih di mobil memiliki beberapa makna karena diyakini sebagai tempat berstana dewa-dewi, Simbolis dari yang disembah, Pemberian perlindungan selama di perjalanan, Pengingat untuk selalu ingat Tuhan
Daksina Linggih terdiri dari berbagai elemen yang memiliki makna simbolis, seperti Srembeng daksina melambangkan angkasa tanpa tepi.
Tapak dara melambangkan arah atau kiblat mata angin, Telur bebek mentah melambangkan bhuana alit
Beras simbolis hasil bumi dan sumber penghidupan, Benang tukelan Simbolis penghubung jiwatman.
Uang kepeng Simbol Bhatara Brahma dan sumber kehidupan, Pisang, tebu, dan kojong, Simbol manusia yang hidup dengan Tri Kaya Parisuda
Porosan dan Kembang sebagai simbol pemujaan pada Hyang Tri Murti, Gegantungan simbol kehidupan yang berulang-ulang. Pesel-pesalan dan biji ratus melambangkan hidup bersama di dunia
Kelapa melambangkan bhuana agung, Cili sebagai simbol kemegahan dan keagungan seni budaya
Ida Pandita Mpu Jaya Acarya Nanda, dalam akun @Wira.Id Channel, berpendapat bahwa fenomena Daksina Linggih di mobil adalah sesuatu yang hiperkorek, atau berlebihan.
Beliau menjelaskan bahwa ketika terjadi kecelakaan, Daksina Linggih bisa ikut terjatuh dan menimbulkan perasaan tidak enak.
“Kayang Bhatarane ajake mileh (Ida Bhatara diajak keliling naik mobil). Hanya masalahnya ketika benturan (kecelakaan), Ida Bhatara ulung (jatuh, Red) perasaan pasti tidak enak. Milu ulung (jatuh) bhatarane, Alamat ape je (pertanda apa ini)? Itu namanya hiperkorek, terlalu berlebihan. Tanpa daksina linggih pun sudah,” jelasnya.
Menurutnya, penggunaan Daksina Linggih di mobil tidak dibutuhkan karena Tuhan selalu bersama kita, di mana pun kita berada.
Keputusan untuk memasang Daksina Linggih di mobil kembali pada keyakinan dan persepsi masing-masing individu.
Bagi yang meyakini manfaatnya, Daksina Linggih bisa menjadi pengingat untuk selalu ingat Tuhan dan memberikan rasa tenang selama di perjalanan. Namun, bagi yang tidak meyakininya, Daksina Linggih di mobil tidaklah wajib. (dik)
Editor : I Putu Mardika