Konon, pura ini dulunya merupakan pusat Kerajaan Balingkang yang diperintah oleh Raja Sri Jaya Pangus di era Bali Kuna.
Pura ini menampilkan ornamen dan interior khas Tionghoa, seperti dominasi warna merah dan emas, arsitektur, dan keberadaan pelinggih Tionghoa di dalam kelenteng utama.
Hal ini menunjukkan akulturasi budaya Bali dan Tionghoa yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Pengempon Pura Dalem Balingkang, Jro Mangku I Nengah Kadi menjelaskan menurut catatan sejarah, para pedagang Tionghoa telah mengenal pulau Bali sejak abad ke-7.
Mereka menyebut pulau Dewata itu sebagai Dva-Pa Tan dan menemukannya secara tidak sengaja setelah terdampar di pantai Pegonjongan di kawasan Singaraja.
Pura Dalem Balingkang merupakan istana Raja Sri Jaya Pangus.
Baca Juga: Pura Penyagjagan Desa Catur Kintamani, Penyatuan Hindu dan Konghucu di Catur
Raja ini menikah dengan dua orang wanita, yaitu Ratu Mandul dan Kang Ching We, putri seorang pedagang Tionghoa.
Pernikahan rahasia raja dengan Kang Ching We membuat marah Dewa Tua dan menyebabkan mereka diusir dari istana di Panarajon.
Mereka kemudian mendirikan kerajaan baru bernama Dalem Balingkang di Desa Pinggan.
Namun, setelah bertahun-tahun menikah, mereka tidak dikaruniai anak.
Raja yang gelisah memutuskan untuk bertapa di Gunung Batur untuk memohon restu Tuhan.
Di sana, dia bertemu dengan Dewi Danu dan mereka menikah secara diam-diam.
Ratu Kang Ching We yang khawatir akhirnya meninggalkan istana kerajaan untuk mencari suaminya.
Saat dia menemukannya, dia melihat Raja Jaya Pangus sedang bersama istri barunya, Dewi Danu.
"Ratu Kang Ching We marah dan menyerang Dewi Danu. Dewi Danu yang marah membakar Kang Ching We hingga meninggal," jelasnya.
Raja Jaya Pangus yang sedih dan berduka kemudian wafat.
Rakyat Dalem Balingkang memohon kepada Dewi Danu untuk menghidupkan kembali raja dan permaisurinya.
Dewi Danu mengabulkan permohonan mereka, tetapi dalam bentuk lingga Barong Landung Lanang-Istri.
Barong Landung Lanang-Istri diyakini dapat memberikan perlindungan dari alam niskala dan memerintah dari alam niskala.
“Kemudian Sang Dewi memerintahkan rakyat Dalem Balingkang untuk membawa kedua lingga tersebut ke Dalem Balingkang dan diberikan anugerah bahwa kedua lingga tersebut bisa memberikan perlindungan dari alam niskala atau memerintah dari alam niskala. Sesampainya di Dalem Balingkang dibuatkanlah upacara agama,” jelasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika