Pura ini memiliki keunikan karena memadukan pemujaan Siwa dan Wisnu, yang tercermin dalam berbagai pelinggih dan simbol di pura.
Pura Dalem Tamblingan dapat diakses melalui dua jalur, yaitu darat dan danau.
Jalur darat menantang dengan jalanan berbatu dan bergelombang, sedangkan jalur danau menawarkan pemandangan indah Danau Tamblingan.
Pura ini memiliki beberapa pelinggih penting. Termasuk Pelinggih Meru Tumpang Solas, Bale Sake Nem, Piyasan, Gedong Kerthajati, Taksu, Dukuh Balian Sakti, dan pelinggih Lingga-Yoni Bhatara Celak Kontong-Lugeng Luwih.
Pelinggih Meru Tumpang Solas melambangkan status Pura Dalem Tamblingan sebagai pura Kerajaan.
Sedangkan Pelinggih Gedong Kerthajati didirikan berdasarkan pawisik niskala. Pelinggih lain mengikuti tradisi pura di Desa Adat Gobleg.
Pura Dalem Tamblingan diperkirakan sudah ada sejak tahun 1927 dan merupakan salah satu pura tertua di Bali.
Pemujaan lingga yoni di pura ini melambangkan harmonisasi Siwa-Wisnu dan sudah dilakukan sejak abad XII.
Pemangku Pura Dalem Tamblingan, Jro Mangku Kastawa menjelaskan, pendirian Meru Tumpang Solas dilakukan karena pertimbangan pemerintah bahwa Pura Dalem Tamblingan merupakan Pura Kerajaan Dalem Tamblingan untuk memuja Ida Bhatara Dalem Bahem atau Ida Bhatara Siwa Murti.
Kemudian Pelinggih Gedong Kerthajati didirikan berdasarkan pawisik niskala bahwa di Pura Dalem Tamblingan berstana Ida Bhatara yang memberi kesejahteraan krama Tamblingan.
Sedangkan bale saka nem, piyasan, taksu maupun pelinggih pecalang didirikan mengikuti tradisi pura-pura di Desa Adat Gobleg.
Batu Salaghrama yang digunakan sebagai lingga yoni melambangkan Wisnu, sedangkan Siwa dipuja sebagai pemimpin spiritual.
Dalam hal ini batu Salaghrama dipandang sebagai personifikasi Wisnu juga dipakai sebagai lingga yang merupakan simbol Siwa.
“Meskipun media utamanya yang dipakai adalah air, banten Sesayut yang mengisyaratkan sebagai pemujaan Wisnu. Tetapi pemimpin spiritual dalam pemujaan lingga yoni di Pura Dalem Tamblingan disebut Siwa,” ungkapnya.
Banyak pemedek yang datang ke Pura Dalem Tamblingan karena berbagai alasan, seperti memohon kesembuhan, keturunan, kesuburan, dan hujan untuk tanaman.
Lanjutnya, pemedek yang hendak nangkil memang lebih banyak karena pawisik.
“Ada yang datang untuk meminta kesembuhan karena sakit non medis berkepanjangan, ada yang nunas keturunan. Termasuk meminta kesuburan dan memohon hujan agar tanaman para petani tetap menghasilkan,” terangnya lagi. (dik)
Editor : I Putu Mardika