Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Pura Pusering Jagat di Desa Adat Jero Kuta Pejeng: Ada Ritual Mapekelem di Telaga Maya

I Putu Mardika • Minggu, 28 April 2024 | 20:52 WIB

Pura Pusering jagat Desa Pejeng, Tampaksiring, Gianyar
Pura Pusering jagat Desa Pejeng, Tampaksiring, Gianyar
JEMBRANA EXPRESS-Pura Pusering Jagat di Desa Adat Jero Kuta Pejeng, Tampaksiring, Gianyar, Bali, merupakan pura Sad Kahyangan yang unik. Di sini, terdapat tradisi Mapekelem Telaga Maya untuk menetralisir energi negatif.

Pura ini dibangun oleh Ki Madayana, putra Raja Bali Kuno, sebagai tempat suci dan pemujaan. Dinamakan Pusering Jagat karena artinya "pusat semesta".

Seperti konsep Hindu Bali pada umumnya, tata letak pura menghadap ke timur, mengikuti arah palinggih utama.

Pura ini juga merupakan situs purbakala dengan peninggalan arkeologi.

Jero Mangku Pura Pusering Jagat, Dewa Ngakan Putu Bagiana, menjelaskan tradisi Mapekelem Telaga Maya yang sakral bagi masyarakat Desa Pejeng.

Upacara Mapekelem Telaga Maya dilaksanakan pada puncak Piodalan atau Pedudusan Ageng, tepatnya pada Purnamaning Sasih Karo.

Upacara ini berlangsung di malam hari sekitar pukul 22.00 Wita di Telaga Maya, area jaba tengah atau jeroan pura.

Uniknya, Telaga Maya tidak memiliki air sama sekali. Tradisi ini biasanya dilakukan di tempat dengan sumber air, seperti laut, danau, atau hutan.

Upacara ini menggunakan berbagai sesajen, termasuk perasantun, suci saji, sorohan, pengelukatan jangkep, dan dua ekor bebek putih jantan dan betina.

“Bebek dikalungi uang bolong berjumlah 11 (pis bolong solas) dan kemudian dilepaskan di Telaga Maya,” kata Dewa Ngakan Bagiana.

Ritual ini diikuti seluruh masyarakat Desa Pejeng, dari anak-anak hingga orang dewasa.

Uniknya, saat pelepasan bebek, terlihat kedua bebek seolah berenang di telaga yang penuh air, meskipun tidak ada air sama sekali.

Semua sarana upakara yang dipakai saat upacara tidak dibuang, dan tetap dibiarkan berada di tengah-tengah telaga.

Ia menyebut, prosesi mepekelem ini bertujuan untuk menetralisir segala wabah penyakit yang ada di Desa Pejeng serta menetralisir energi negatif.

Bukan tanpa alasan mepekelem dilaksanakan. Pasalnya karena adanya musibah yang buruk yang telah terjadi di halaman Pura yaitu terbelahnya tanah di Pura Pusering Jagat.

Kemudian mengeluarkan banyak air dan suara seperti gemuruh air samudera yang nantinya akan dapat menenggelamkan Desa Pejeng,

Peristiwa inilah sangat berdampak buruk pada kehidupan seluruh masyarakat dan menyebabkan ketakutan yang besar serta menyebarnya wabah penyakit di sekitar masyarakat Desa Pejeng.

Upacara Mapekelem Telaga Maya bertujuan untuk menetralisir segala wabah penyakit dan energi negatif di Desa Pejeng.

Tradisi ini berawal dari musibah terbelahnya tanah di halaman pura yang mengeluarkan banyak air dan suara gemuruh, seperti air samudera yang akan menenggelamkan desa.

Peristiwa ini menyebabkan ketakutan dan wabah penyakit di masyarakat.

“Upacara Mapekelem Telaga Maya kemudian diadakan dan dipercaya mampu memulihkan keadaan Desa Pejeng dan membawa kedamaian bagi masyarakat,” tutupnya. (dik)

Kepala Dinkominfostasandi Purworejo Yudhie Agung Prihatno
Kepala Dinkominfostasandi Purworejo Yudhie Agung Prihatno
Editor : I Putu Mardika
#telaga #energi negatif #gianyar #Tampaksiring #bebek #hindu bali #maya #pura #Pura Pusering Jagat #Mapekelem