Tradisi ini menarik perhatian karena bebek jantan dan betina yang dilepaskan di Telaga Maya tanpa air terlihat seperti sedang berenang.
Sebelum Mapakelem Telaga Maya, diawali dengan Upacara Mapakeling untuk membersihkan dan mendekorasi sesaji di Pura Pusering Jagat.
Baca Juga: Pura Pusering Jagat di Desa Adat Jero Kuta Pejeng: Ada Ritual Mapekelem di Telaga Maya
Jero Mangku Dewa Ngakan Putu Bagiana menjelaskan bahwa seluruh masyarakat Desa Pejeng kemudian datang ke pura dengan membawa banten dan melakukan persembahyangan bersama.
Seperti tradisi Umat Hindu Bali pada umumnya, seluruh prosesi dipimpin para pemangku.
Pemangku, panitia, dan sutri-sutri menyiapkan upakara untuk Mapakelem Telaga Maya. Semua banten upakara, termasuk suci saji dan sorohan, diletakkan di tengah Telaga Maya.
"Pemangku, panitia dan semua sutri-sutri pun mempersiapkan upakara yang akan digunakan untuk upacara Mapakelem Telaga Maya,”ungkapnya.
Dua ekor bebek putih jantan dan betina yang telah dikalungi uang bolong 11 (pis bolong solas) dilepaskan di telaga.
Masyarakat diperbolehkan untuk menangkap bebek-bebek tersebut, tetapi tidak boleh turun ke telaga.
"Bebek hanya boleh ditangkap dari luar Telaga Maya. Setelah tertangkap, bebek dikembalikan kepada sutri atau perhyangan di pura," paparnya.
Banten upakara di tengah telaga dibiarkan tanpa dibersihkan.
Tradisi bebek menari ini dipercaya mampu menetralisir energi negatif dan penyakit di Desa Pejeng.
Tradisi ini berawal dari musibah terbelahnya tanah di halaman pura yang mengeluarkan air dan suara gemuruh, serta menyebabkan ketakutan dan wabah penyakit.
Upacara Mapakelem Telaga Maya dan tradisi bebek menari merupakan bagian penting dari budaya dan spiritualitas masyarakat Desa Pejeng.
"Tradisi ini mencerminkan kepercayaan mereka terhadap kekuatan spiritual dan upaya mereka untuk menjaga keseimbangan alam dan kehidupan," tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika