Upacara Piodalan Ageng atau Nyatur dilaksanakan secara rutin setiap tahun, jatuhnya tepat pada Purnamaning Kesanga, sekitar bulan Pebruari/Maret.
Pemangku Pura Penataran Sasih, Ngakan Made Semara Putra menjelaskan Piodalan Alit (Sesepen), dilaksanakan berdasarkan pawukon tepatnya pada hari Redite Umanis Wuku Langkir (Umanis Kuningan), yaitu setiap 210 hari sekali.
Tidak dapat dipungkiri, bahwa suatu ketika upacara Piodalan Ageng bersamaan jatuhnya atau setidaknya dalam waktu yang relatif dekat dengan upacara Sesepen.
Sebab upacara Piodalan Ageng Nyatur yang berpedoman kepada sasih (Kesanga) jatuhnya setiap 365/366 hari sekali dan Sesepen berdasarkan pawukon (Wuku Langkir/Umanis Kuningan) jatuhnya setiap 210 hari sekali.
Selain waktu pelaksanaannya berbeda, hal lebih prinsip membedakan Pujawali “Nyatur” dengan Sesepen adalah panyejeran Ida Betara dan upakara ayaban yang dipersembahkan. Bila Pujawali, Ida Betara nyejer 11 hari,
Sedangkan upacara Sesepen Ida Betara nyejer selama tiga hari. Demikian pula upakara ayaban yang dipersembahkan ketika Sesepen secara kuantitas jauh lebih kecil (sedikit) dari Pujawali Nyatur
Pada saat Upacara Piodalan Ageng atau Pujawali Nyatur, Ida Betara Sasuhunan dari kahyangan tiga se-Desa Pejeng yang juga disebut Ida Betara Manca, sejak sore hari sudah diusung ke Pura Penataran Sasih oleh warga desa adatnya masing-masing dan berlangsung kurang-lebih sampai malam hari.
Setelah Ida Betara Kahyangan Tiga dari desa adat masing-masing disthanakan di palinggih yang telah disediakan, maka sekitar pukul 20.00 Wita upacara Pujawali mulai dilaksanakan.
Pendeta (Sulingih) yang memimpin upacara sekaligus sebagai pengrajeg karya, dan diberi kesempatan secara bergilir mengingat di Desa Pejeng ada Lima Geria Pendeta.
Serangkaian dengan pelaksanaan upacara piodalan, tepatnya setelah 11 hari Ida Bhatara nyejer dilaksanakan upacara makiis (melis/melasti), sekaligus makiis untuk menyambut upacara panyepian.
Upacara semacam ini merupakan kegiatan rutin setiap upacara piodalan ageng di Pura Penataran Sasih.
“Tempat yang dijadikan sasaran makiis adalah Segara Lebih, Pura Tirta Empul dan Ngubeng (di tempat) yaitu di Pura Penataran Sasih. Ketiga tempat tersebut dijadikan sasaran makiis setiap tahunnya ditentukan secara bergilir,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika