Di kawasan suci yang dikeramatkan tersebut, beragam kejadian aneh pernah dialami pamedek.
Mulai dari kejadian menyeramkan, hingga mendapatkan paica berupa batu mulia yang diberikan oleh Ida Bhatara. Tak heran, umat Hindu Bali acapkali nangkil ke Pura Baturgangsia ini.
Tokoh masyarakat Desa Tingarsari Kadek Oka Armadika mengatakan karena dipercaya sebgai kawasan suci yang keramat, banyak umat yang tangkil sembahyang.
Bahkan pemedek kerap melakukan tapa semedi di pura dan tidak jarang dari mereka itu yang mendapatkan paica berupa batu mulia.
Namun, masyarakat setempat kerap memohon agar hasil pertanian melimpah, sehingga memberikan kemakmuran.
Baca Juga: Pura Batur Gangsia di Desa Tinggarsari: Mitos Batu dibawa oleh Kera
Tidak jarang pula krama sering naur sesangi atau membayar kaul karena permohonannya dikabulkan.
“Kami meyakini palinggih di antara batu-batu yang dibangun menjadi Pura Baturgangsia merupakan pura kesuburan untuk lahan pertanian mereka. Karena yang berstana juga diyakini setara dengan Dewa Wisnu,” imbuhnya.
Piodalan Pura Batur Gangsia sendiri dilaksanakan setahun sekali pada Purnama ning Kasa. Ribuan krama setempat nangki untuk menghaturkan persembahyangan bersama.
Sebelum puncak piodalan, lebih dulu dilakukan prosesi Mendak Ida Batara yang berada di palinggih bebaturan di bawah Pura Batur Gangsia.
Sedangkan di akhir upacara piodalan (masineb), krama setempat biasanya nunas tirta untuk di siratkan ke tumbuhan di kebun mereka, agar cepat berbuah.
“Memang sebagian besar krama Desa Tinggarsari bermata pencaharian sebagai petani cengkih dan kopi,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika