Selain tempat suci yang lainnya, juga memiliki beberapa peninggalan benda-benda zaman Balikuna.
Benda peninggalan zaman balikuna yang terdapat di Pura Penataran Agung Bukian ini adalah merupakan Dinding Petirtaan.
Dari hasil penelitian Balai Pelestarian Cagar Budaya di areal ini terdapat Dinding Petirtaan dengan delapan pancuran yang berada dikaki tebing tidak jauh dari areal pura, malahan menjadi satu areal tempat suci.
Baca Juga: Pura Tirta Mangening di Tepi Danau Tamblingan: Hanya Bebaturan, Tempat Nunas Tirta untuk Melukat
Dinding petirtan ini membentang dari utara ke selatan menghadap ke barat sedangkan Pura Penataran Agung mengadap ke selatan.
Petirtan ini terbuat dari batu padas dengan panjang 9,5 m dan tinggi 2,6 m.
Di bagian bawah berbentuk pepalihan dan memakai sisi genta yang khas bentuknya.
Sedangkan bagian belakang keluar air sumber air dari bagian bawah tebing berkumpul berupa sebuah kolam dan ditengah-tengahnya terdapat sebuah lingga yoni.
Dane Jro Kubayan, selaku pengempon Pura Penataran Agung Desa Adat Buklian, Pelaga Kumpulan air ini keluar melalui melaui delapan pancoran yang terdiri dari lima pancoran arca wanita dan tiga berupa pancoran biasa. Arca pancuran tersebut berturut-turut dari selatan ke utara.
Pancuran pertama dan kedua berbentuk segi empat, dari lubangnya mengalir air petirtaan berasal dari kumpulan air yang keluar dari bawah dinding tebing melalui lingga yoni.
Pancuran pertama ini berukuran lebih kecil dari pancuran kedua.
Pancuran ketiga berbentuk arca seorang wanita, dalam posisi duduk bersimpuh di atas lapik berbentuk segi empat. Kondisi arca agak rusak terutama pada bagian kepala.
Arca pancuran ini berukuran tinggi 45 cm dan lebar 16 cm dan diameter lubang airnya 8,1 cm.
Pada pancuran keempat kondisinya pancurannya sangat rusak, lubang saluran air petirtan berbentuk segi empat dengan ukuran 9,5 cm, tinggi arca 47 cm dan lebar 22 cm.
Pancuran ke lima merupakan pancuran yang memiliki saluran berupa lingkaran yang keluar dari sela-sela kedua lutut arca wanita dalam posisi duduk bersimpuh.
Di atas lapik berbentuk segi empat, badan dan kepala sudah rusak, kedua tangan berada di samping dan bertemu solah-olah memegang pancuran, dada agak menonjol.
Arca ini berukuran tinggi 47 cm diameter 1,5 cm dan lebar 17 cm.
Pada pancuran ke enam merupakan pancuran biasa tidak berisi arca. Pancuran air pada petirtan ketujuh dan kedelapan menggunakan arca tapi kondisinya sangat sulit diidentifikasi.
Peninggalan yang lain yang masih ada pada tempat suci pura penataran Agung Bukian adalah berupa Tugeh dari kayu yang menyangga langit-langit bangunan balai lantang dengan ciri-ciri bentuk ukiran yang sangat sederhana dengan jumlah empat buah.
Tugeh adalah salah satu seprangkat bangunan (Bagian) yang menjadi penyangga langit-langit bangunan dibentuk sedemikian rupa.
Tugeh ini merupakan unsur yang biasanya terdapat pada desa-desa kuna Baliaga,
Peninggalan berupa Lingga yang berada diatas lapik terbentuk Padma Gandha dipetirtan Pura Penataran Agung Bukian.
Terdiri dari tiga bagian masing-masing dari bawah ke atas, Paling bawah segi empat, diatasnya segi delapan dan yang paling atas bulatan.
Tinggi lingga ini 47,5 cm lebar 16 cm, tebal 16 cm., pada bagian Bulatan atas terdapat kerusakan. “Kemungkinan terkena cangkul saat masyarakat melakukan pembersihan (mereresik), demikian pula pada bagian badannya,” ungkapnya.
Pada saat ditemukan dipasang terbaik yaitu bagian atas atau bulatan ditanam dibawah, hal ini terjadi karena masyrakat sama sekali tidak tahu mengenai benda sakral ini berupa lingga.
Lingga merupakan lambing kesucian dari para Dewa.
Lingga ini merupakan temuan yang sangat unik karena Padma Gandha langsung dipahatkan segi empatnya sebagai lapik.
Bila dibandingkan dengan arca pancuran yang terdapat pada kolam petirtan Goa Gajah, dimana pada arca pancuran dalam posisi berdiri tegak dan saluran air keluar dari bagian pusar, sedangkan dipura Penataran agung Bukian saluran air dari sela-sela paha arca.
Dari segi gaya arca pancuran di Goa Gajah memiliki tanda-tanda kedewataan dan sesuai dengan gaya arca abad ke sebelas.
Jika dibandingkan kedua arca tersebut mungkin ada kesamaan atau perbedaan karena araca pancuran di Pura Penataran Agung Bukian kondisinya sudah rusak. (dik)
Editor : I Putu Mardika