Pura yang terletak di Desa Adat Karangasari, Desa Suana, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung ini memiliki sejarah Panjang yang dikenal oleh Umat Hindu Bali.
Tak sulit untuk menjangkau Pura Goa Giri Putri. Waktu tempuhnya sekitar 20 menit ke arah timur Pelabuhan Sampalan.
Pura tersebut bisa dijangkau dengan berbagai moda transportasi, baik roda dua maupun roda empat.
Seperti namanya, Goa Giri Putri memiliki pintu masuk berupa goa.
Uniknya, meskipun terlihat mulut goa terlihat kecil, namun para pemedek yang nangkil senantiasa bisa memasuki mulut goa.
Baca Juga: Pura Goa Tirta Sunia, Ada Tirta tak Terlihat, Menetes Sewaktu-waktu
Setelah sampai masuk ke dalam goa, maka rasa takjub pun akan muncul di benak.
Bagaimana tidak, meskipun lubang goa sangat kecil, namun begitu sampai di dalam goa maka ruanganya sangat besar.
Bahkan bisa menampung ribuan pemedek. Pasalnya, goa ini memiliki ketinggian hingga 10 meter dengan Panjang sekitar 310 meter.
Suasana hening dan sakral. Alunan genta pemangku saat melayani pemedek seolah memenuhi gua.
Asap dupa kian menambah kesakralan dan vibrasi spiritual. Pemedek pun bisa melakukan persembahyangan secara berjenjang.
Pura Goa Giri Putri memiliki perjalanan sejarah yang panjang.
Dalam berbagai refrensi disebutkan, nama Goa Giri Putri disematkan karena pura ini berada di dalam goa.
Sedangkan nama Giri artinya bukit atau gunung. Putri artinya perempuan cantik.
Dalam konsep Hindu, putri yang dimaksud adalah sebuah simbolis bagi kekuatan Tuhan yang memiliki sifat feminisme atau keibuan.
Menurut Babad Nusa Penida Goa Giri Putri ini berasal dari nama saktinya Dewa Siwa.
Disebutkan, pada tahun Saka 50, Ida Bhatara Siwa turun ke bumi bersama Dewi Uma, beserta pengikutnya di sebuah gunung yakni Gunung Puncak Mundhi.
Di gunung inilah Ida Bhatara Siwa dan saktinya Ida Dewi Uma menjelma dari meraga Dewata menjadi manusia.
Ida Bhatara Siwa menjelma menjadi seorang laki-laki, meraga seorang Pandita yang bergelah Dukuh Jumpungan.
Dukuh Jumpungan berarti Manusa Pandita. Dari kalimat itu berubah menjadi Nusa Penida.
Di samping turun di Gunung Puncak Mundhi, Ida Bhatara Siwa juga turun di sebuah tempat pada tahun Saka 55, yang sekarang bernama Tunjuk Pusuh.
Tetapi pada tahun Saka 45, Dewi Kwam In lebih dahulu turun dan berstana di sebuah goa.
Konon dituliskan jika Dewi Parwati menyusul turun ke bumi pada tahun Saka 60, dan lebih banyak lagi yang turun seperti Bhatara Brahma, Mahadewa, Ganapati, Gangga, Tri Purusha, dan Basukih.
Sekarang tempat atau goa tersebut bernama Goa Giri Putri yang menjadi pusering jagat sedangkan Dewi Parwati yang bergelar Hyang Giri Putri sebagai penjaga tirta yang ada di Pura Goa Giri Putri (dik)
Editor : I Putu Mardika