Pura ini didirikan pada abad ke- 13 Masehi atau sekitar tahun 1284. Nama Pura Kebo Edan diambil dari nama sepasang arca utama yaitu arca berbentuk kerbau yang terdapat di pura tersebut.
Pemangku Pura Kebo Edan, Jro Mangku Putu Duaja, 64 menjelaskan keberadaan Pura Kebo Edan sangat berkaitan erat dengan Kerajaan Singosari yang pada saat itu dipimpin oleh rajanya yang bernama Kertanegara
Pura Kebo Edan didirikan pada zaman kerajaan Singosari dengan Rajanya bernama Kertanegara.
Pada saat itu Raja Kertanegara terkenal dengan politik luar negerinya, dimana pada masa kepemimpinannya selalu berjuang meluaskan kekuasannya baik ke arah barat sampai daerah Melayu di Sumatera maupun ke arah timur termasuk Bali.
Berdasarkan catatan sejarah disebutkan bahwa pada tahun 1284 beliau menyerang Bali, dan rajanya ditawan.
Hal itu disebutkan dalam kitab Negarakertagama bahwa pada tahun saka: badan, langit, hari kirim utusan untuk menghancurkan Bali.
Setelah mengalami kekalahan, rajanya menghadap baginda sebagai orang tawanan. Raja Kertanegara adalah raja yang menganut faham Tantrayana dengan menganggap dirinya sebagai Bhairawa
Dua prasasti yang berangka tahun caka 1218 dan 1222 yang tidak menyebutkan nama raja tetapi hanya menyebutkan nama “raja patih”, yaitu yang dimaksud adalah Kebo Parud.
Selain itu nama-nama dan pangkat mantra lainnya juga brcorak Jawa, seperti mentri-mentri kerajaan Singosari.
“Sebagai seorang raja patih, beliau mengeluarkan sebuah prasasti, prasasti pertama dari Patih Kebo Parud yaitu membahas permasalahan desa Kedisan yang berangka tahun Caka 1218. Dalam prasasti tersebut Kebo Parud dikenal sebagai “Mwang Ida Raja Patih I mekakosir Kebo Parud” jelasnya.
Ia menjelaskan, jika mengacu pada isi prasasti dan nama patih itu ternyata sebutan seorang pegawai negara yang berasal dari Jawa Timur.
Dalam kerajaan Singosari nama Patih seperti itu banyak dijumpai sebagai patih Raja Kertanegara seperti Patih Kebo Arema dan Patih Kebo Tengah.
“Ini menjelaskan bahwa Kebo Parud ditugaskan sebagai Gubernur atau utusan dari Kerajaan Singosari di Bali. Sama halnya dengan Kertanegara, Kebo Parud juga menganut aliran Tantrayana,” paparnya.
Hal tersebut karenakan dalam prasasti-prasasti yang ditinggalkan oleh Kebo Parud tidak terdapat sapatha yang ditunjukan kepada Maharesi Agastya sebagaimana sering ditemukan dalam prasasti-prasasti lainnya yang ditemukan di Bali yang dikeluarkan terlebih dahulu.
“Pura Kebo Edan ini dibangun bertujuan untuk melaksanakan upacara kepercayaan dari Kebo Parud yaitu Tantrayana, ini dapat dibuktikan dengan adanya arca-arca yang berciri-ciri Bhairawa yang ada di pura tersebut,” ungkapnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika